::

Banyak HR sudah punya KPI dan sistem penilaian kinerja.
Form ada. Skor ada. Review tahunan jalan.
Tapi yang sering terjadi di lapangan:
- karyawan merasa dinilai tidak adil
- atasan sulit menjelaskan alasan skor
- diskusi performance berubah jadi debat
- hasil penilaian tidak berdampak ke perbaikan kerja
Akhirnya KPI hanya jadi rutinitas administratif, bukan alat pengembangan.
Masalah utamanya sering bukan pada orang, tapi pada desain dan penggunaan KPI itu sendiri.
Beberapa tanda penilaian kinerja belum sehat:
- KPI terlalu umum dan sulit diukur
- Penilaian sangat bergantung pada opini atasan
- Target tidak dikaitkan dengan pekerjaan harian
- Review hanya dilakukan setahun sekali
- Hasil penilaian tidak diikuti rencana perbaikan
Akibatnya:
- Karyawan bekerja untuk “kelihatan sibuk”, bukan hasil
- Atasan cenderung bermain aman saat memberi nilai
- HR kesulitan membuktikan objektivitas sistem kinerja
Agar penilaian kinerja benar-benar berfungsi, beberapa prinsip berikut penting diperhatikan:
- KPI harus bisa diamati, bukan ditafsirkan
Kalau dua orang menilai hasil yang sama tapi skornya berbeda jauh, berarti indikatornya belum jelas.
- Hubungkan KPI dengan proses kerja nyata
Karyawan harus tahu, “kalau saya mengerjakan ini dengan benar, nilainya akan naik.”
- Pisahkan evaluasi kinerja dan emosi personal
Penilaian kinerja bukan penilaian karakter.
- Lakukan review berkala, bukan tahunan saja
Feedback kecil tapi rutin jauh lebih efektif daripada evaluasi besar yang datang terlambat.
- Gunakan hasil KPI untuk pengembangan, bukan sekadar angka
Kalau skor rendah tapi tidak ada rencana perbaikan, sistemnya hanya menghukum, bukan membangun.
KPI yang baik seharusnya membuat karyawan lebih jelas arah kerjanya,
bukan lebih cemas saat penilaian datang.
Kalau setiap siklus performance review selalu penuh ketegangan,
biasanya yang perlu dievaluasi adalah cara menilai, bukan orang yang dinilai.
Pertanyaan untuk diskusi:
Di tempat kalian, tantangan terbesar dalam penilaian kinerja apa?