Apakah anda mencari sesuatu?

SELF LOVE ATAU SELFISH?

February 20, 2026 at 1:37 pm
Unpinned
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 0 replies
      View Icon 3 views
        Up
        0
        ::

        Ketika Mencintai Diri Sendiri Disalahpahami Sebagai KeegoisanKita hidup di zaman yang sering meneriakkan satu kalimat populer: “Love yourself!”
        Di media sosial, seminar motivasi, hingga buku pengembangan diri, pesan tentang mencintai diri sendiri terdengar di mana-mana.

        Namun, di sisi lain, ada bisikan lain yang tak kalah kuat:
        “Jangan egois.”
        “Jangan cuma mikirin diri sendiri.”
        “Kamu kok berubah jadi cuek?”

        Lalu muncul pertanyaan yang tak sederhana:
        Apakah self love itu benar-benar mencintai diri sendiri, atau hanya kemasan halus dari selfish (egois)?

        Mari kita bedah pelan-pelan.

        1. Self Love: Fondasi Kesehatan Emosional
        Self love bukan berarti memuja diri berlebihan. Ia adalah kemampuan untuk menerima diri, memahami kebutuhan diri, dan memperlakukan diri dengan hormat.

        Dalam psikologi modern, konsep ini sejalan dengan gagasan yang dipopulerkan oleh Kristin Neff tentang self-compassion — sikap welas asih terhadap diri sendiri.

        Menurutnya, self love bukan tentang merasa paling hebat, tapi tentang:

        Mengakui bahwa kita tidak sempurna
        Memaafkan diri atas kesalahan
        Memberi ruang untuk bertumbuh
        Self love berkata:
        “Aku layak dihargai.”
        “Aku boleh lelah.”
        “Aku boleh berkata tidak.”

        Dan itu sehat.

        2. Selfish: Ketika Diri Jadi Pusat Segalanya
        Berbeda dengan self love, selfish adalah kondisi ketika seseorang menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya tanpa peduli dampaknya pada orang lain.

        Selfish berkata:
        “Pokoknya aku harus untung.”
        “Yang penting aku nyaman.”
        “Orang lain urusan belakangan.”

        Selfish tidak peduli apakah tindakannya melukai orang lain, selama dirinya puas.

        Self love punya empati.
        Selfish kehilangan empati.

        Itulah perbedaan mendasarnya.

        3. Kenapa Self Love Sering Disalahpahami?
        Karena batasnya memang tipis.

        Ketika seseorang mulai berani berkata “tidak”, orang lain bisa merasa ditolak.
        Ketika seseorang berhenti selalu menyenangkan orang lain, ia bisa dicap berubah.
        Ketika seseorang menjaga jarak dari lingkungan yang toxic, ia bisa dianggap sombong.

        Padahal mungkin ia hanya sedang belajar mencintai dirinya.

        Dalam budaya kolektif seperti di Indonesia, nilai kebersamaan sangat kuat. Mengutamakan diri sendiri sering dianggap tidak sopan atau tidak peduli.

        Padahal, mencintai diri sendiri bukan berarti meninggalkan orang lain.
        Itu berarti memastikan kita cukup kuat sebelum membantu.

        4. Self Love Itu Bukan Narsisme
        Sering kali orang menyamakan self love dengan narsisme.

        Padahal narsisme adalah gangguan kepribadian yang berbeda. Dalam dunia psikologi dikenal sebagai Narcissistic Personality Disorder yang juga pernah dibahas dalam manual seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

        Narsisme berakar pada kebutuhan validasi berlebihan dan rasa superioritas.
        Self love berakar pada penerimaan diri.

        Narsisme butuh pujian.
        Self love butuh keseimbangan.

        Narsisme merasa lebih tinggi.
        Self love merasa cukup.

        5. Self Love Mengajarkan Batasan
        Salah satu bentuk paling nyata dari self love adalah menetapkan batasan (boundaries).

        Misalnya:

        Tidak menjawab telepon kantor di luar jam kerja
        Tidak memaksakan diri hadir di acara yang melelahkan mental
        Tidak bertahan dalam hubungan yang merusak harga diri
        Batasan bukan tembok untuk memusuhi.
        Batasan adalah pagar untuk menjaga kewarasan.

        Selfish menghancurkan hubungan.
        Self love justru menyelamatkan hubungan — karena ia membuat kita hadir dalam keadaan utuh, bukan terpaksa.

        6. Ketika Self Love Terlihat Seperti Selfish
        Bayangkan seseorang yang dulu selalu berkata “ya” pada semua permintaan.
        Ia selalu membantu.
        Selalu hadir.
        Selalu mengalah.

        Lalu suatu hari ia belajar tentang self love.
        Ia mulai berkata “maaf, kali ini tidak bisa.”
        Ia mulai memilih istirahat.
        Ia mulai menjaga waktu pribadi.

        Orang-orang mungkin terkejut.
        Mereka merasa kehilangan “kenyamanan” yang dulu ada.

        Dan di situlah self love sering disalahartikan sebagai selfish.

        Padahal yang berubah bukan kepeduliannya.
        Yang berubah adalah cara ia memperlakukan dirinya.

        7. Self Love Membuat Kita Lebih Mampu Mencintai Orang Lain
        Analoginya sederhana:
        Bagaimana mungkin kita menuangkan air dari gelas yang kosong?

        Self love mengisi gelas itu.
        Selfish hanya ingin memiliki gelas paling besar.

        Orang yang sehat secara emosional biasanya:

        Tidak mudah tersinggung
        Tidak haus validasi
        Tidak cemburu berlebihan
        Tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain
        Kenapa?
        Karena ia sudah berdamai dengan dirinya.

        8. Tanda-Tanda Self Love yang Sehat
        ✔️ Mengakui kesalahan tanpa menghancurkan diri
        ✔️ Berani meminta bantuan
        ✔️ Tidak membandingkan diri secara berlebihan
        ✔️ Menjaga kesehatan fisik dan mental
        ✔️ Mampu berkata tidak dengan sopan

        Self love tidak membuat seseorang arogan.
        Ia membuat seseorang stabil.

        9. Tanda-Tanda Selfish yang Terselubung
        ⚠️ Menggunakan alasan “self love” untuk menghindari tanggung jawab
        ⚠️ Mengabaikan komitmen demi kenyamanan pribadi
        ⚠️ Tidak peduli dampak pada orang lain
        ⚠️ Selalu merasa paling benar

        Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri.

        Kadang kita menyebutnya “aku lagi jaga mental health”,
        padahal sebenarnya kita sedang lari dari tanggung jawab.

        Self love tidak membebaskan kita dari kewajiban.
        Ia membantu kita menjalani kewajiban dengan lebih sehat.

        10. Apakah Kita Harus Memilih Salah Satu?
        Tidak.

        Kita tidak hidup di dunia hitam-putih.

        Ada saatnya kita harus mengutamakan diri.
        Ada saatnya kita perlu berkorban.

        Masalahnya bukan pada memilih diri sendiri atau orang lain.
        Masalahnya adalah keseimbangan.

        Self love tanpa empati menjadi selfish.
        Pengorbanan tanpa batas menjadi self-neglect.

        Kita butuh titik tengah.

        11. Self Love dan Dunia Kerja
        Di lingkungan kerja, self love sering diuji.

        Misalnya:

        Berani menolak beban kerja yang tidak realistis
        Mengambil cuti saat benar-benar butuh
        Tidak memaksakan lembur tanpa henti
        Sebagian orang mungkin menilai itu kurang loyal.
        Padahal itu bentuk menjaga performa jangka panjang.

        Burnout bukan tanda dedikasi.
        Burnout tanda sistem yang tidak sehat.

        Self love membuat kita produktif tanpa menghancurkan diri.

        12. Self Love Itu Proses, Bukan Slogan
        Self love bukan afirmasi kosong di cermin.
        Ia adalah proses panjang berdamai dengan masa lalu.

        Memaafkan kesalahan diri.
        Mengakui luka.
        Melepas rasa bersalah yang tidak perlu.

        Kadang proses ini tidak nyaman.
        Kadang kita harus menghadapi trauma.
        Kadang kita harus mengakui bahwa kita terlalu keras pada diri sendiri.

        Self love adalah keberanian untuk jujur.

        13. Jadi, Self Love atau Selfish?
        Jawabannya tergantung niat dan dampaknya.

        Tanyakan pada diri sendiri:

        Apakah keputusan ini melindungi diriku tanpa merugikan orang lain?
        Apakah aku sedang menjaga batasan atau menghindari tanggung jawab?
        Apakah aku masih punya empati?
        Jika ada empati, itu self love.
        Jika empati hilang, itu selfish.

        14. Kita Tidak Harus Selalu Mengalah
        Ada kalimat yang sering kita dengar:
        “Jadilah orang baik.”

        Tapi sering kali kita lupa:
        Menjadi orang baik tidak berarti menjadi orang yang selalu berkorban.

        Kita boleh lelah.
        Kita boleh istirahat.
        Kita boleh berkata tidak.

        Mencintai diri sendiri bukan dosa.
        Menghancurkan diri demi diterima orang lain justru lebih berbahaya.

        15. Penutup: Belajar Mencintai Tanpa Kehilangan Empati
        Self love adalah seni menjaga diri tanpa kehilangan hati.
        Selfish adalah kehilangan hati demi menjaga diri.

        Di tengah dunia yang penuh tuntutan, kita memang perlu belajar mencintai diri.
        Tapi jangan sampai cinta itu membuat kita lupa bahwa orang lain juga punya rasa.

        Karena pada akhirnya, manusia bukan makhluk yang hidup sendiri.
        Kita saling terhubung.

        Cintai dirimu.
        Tapi tetap peduli.

        Jaga batasanmu.
        Tapi tetap punya empati.

        Karena self love yang sehat tidak membuat kita menjauh dari orang lain—
        ia justru membuat kita hadir sebagai versi terbaik dari diri kita.

        Dan mungkin, di situlah jawabannya:

        Self love bukan selfish.
        Ia adalah fondasi agar kita bisa mencintai dunia tanpa kehilangan diri sendiri.

    Viewing 0 reply threads
    • You must be logged in to reply to this topic.
    Image

    Bergabung & berbagi bersama kami

    Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!