- This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 3 minutes ago by
Joko Siyamto.
Diam Itu Emas, Mendengar Itu Berkelas
October 23, 2026 at 5:45 pm-
-
Up::0
DIAM ITU EMAS, MENDENGAR ITU BERKELAS
Komunikasi adalah jembatan utama yang menghubungkan seseorang dengan dunia di sekitarnya. Lewat kata-kata, kita bisa membangun kerja sama, menebarkan inspirasi, atau justru melukai perasaan orang lain tanpa disadari. Dalam dunia profesional maupun sosial, kecerdasan intelektual saja tidak cukup; kecerdasan emosional yang tercermin dari adab saat berbicara memegang peran krusial dalam menciptakan interaksi yang bermakna.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa adab berbicara, khususnya larangan memotong pembicaraan (menyela) begitu penting, serta dilema abadi: mana yang lebih baik antara banyak berbicara atau mendengarkan?
Adab Utama dalam Berbicara: Jangan Suka Menyela
Salah satu ujian terbesar dalam sebuah percakapan adalah menahan diri untuk tidak memotong kalimat orang lain saat mereka sedang berbicara. Kebiasaan menyela sering kali dilakukan secara tidak sadar, entah karena terlalu antusias, ingin segera menyanggah, atau merasa sudah tahu ke mana arah pembicaraan tersebut.
Namun, dari sudut pandang psikologi dan etika sosial, memotong pembicaraan membawa dampak negatif yang cukup signifikan:
– Menunjukkan ketidakhormatan, yaitu saat seseorang disela, pesan yang ingin disampaikan terputus. Ini mengirimkan sinyal bawah sadar bahwa opini atau waktu mereka tidak dihargai.
– Merusak alur berpikir, yaitu orang yang sedang berbicara membutuhkan konsentrasi untuk merangkai ide. Interupsi mendadak dapat merusak fokus dan membuat esensi pesan menjadi hilang.
– Memicu defensif, yaitu seharusnya menciptakan diskusi yang sehat, menyela justru sering kali memicu respons defensif atau rasa tersinggung dari lawan bicara.
Solusi Elegan:
Latihlah diri untuk menjadi pemberi ruang. Biarkan lawan bicara menyelesaikan kalimatnya sepenuhnya, berikan jeda sejenak untuk menunjukkan proses mencerna informasi, barulah sampaikan tanggapan Anda dengan santun.Mana yang Lebih Baik: Mendengarkan atau Banyak Berbicara?
Pertanyaan klasik ini sering kali memunculkan perdebatan. Dalam banyak budaya dan filosofi bijak, jawabannya condong pada satu prinsip utama, yaitu mendengarkan jauh lebih baik daripada banyak berbicara.
Pepatah lama sering menyebutkan, “Kita dikaruniai dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.“
Berikut adalah perbandingan mendalam mengapa mendengarkan memiliki nilai yang lebih tinggi:
1) Esensi dari Mendengarkan (Active Listening)
– Membangun empati, yaitu pendengar yang baik mampu menangkap emosi di balik kata-kata, bukan hanya isi pesannya. Ini membuat lawan bicara merasa aman dan dihargai.
– Menambah wawasan, yaitu orang yang banyak bicara biasanya hanya mengulang apa yang sudah ia ketahui. Sebaliknya, orang yang banyak mendengar akan menyerap informasi baru, sudut pandang berbeda dan belajar dari pengalaman orang lain.
– Menghindari kesalahan fatal, yaitu terlalu banyak berbicara sering kali menyeret seseorang ke dalam perkataan yang sia-sia, berlebihan atau bahkan menyebar informasi yang keliru (hoaks atau gosip).
2) Sisi Lain dari “Banyak Berbicara”
Bukan berarti berbicara itu dilarang sama sekali. Berbicara menjadi sangat penting ketika berada dalam posisi untuk menyampaikan edukasi, memimpin diskusi atau memberikan solusi konstruktif.
Namun, berbicara secara berlebihan tanpa substansi justru kerap diasosiasikan dengan:
– Keinginan untuk selalu mendominasi (attention-seeking).
– Kurangnya kedalaman refleksi terhadap apa yang diucapkan.
– Potensi salah ucap karena mengabaikan rem etika.
Kesimpulan:
Adab berbicara yang baik bukanlah tentang siapa yang paling fasih merangkai kata, melainkan siapa yang paling bijak dalam menempatkan diri.Kombinasi ideal seorang komunikator yang sukses adalah berbicara secukupnya dengan bobot yang bermakna, serta mendengarkan jauh lebih banyak untuk memahami. Dengan menjaga adab, tidak menyela pembicaraan dan menjadi pendengar yang aktif, kita tidak hanya membangun reputasi profesional yang baik, tetapi juga menumbuhkan hubungan interpersonal yang tulus dan tahan lama.
Yuk, silahkan berdiskusi dikolom komentar ya teman-teman!😊
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Mengapa Sebagian Orang Sulit Mengakui Kesalahan?Integritas di Kantor: Mengapa Sebagian Orang Sulit Mengakui Kesalahan? Kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika profesional. Tidak ada individu atau tim…23 Oct 2026 • GeneralTerkait:diam yaitu orang baik sering menjadi
-
10 Kebohongan yg Sering Kita Percaya dan Fakta yg Bisa Bikin Hidupmu Lebih BaikKita sering dengar banyak omongan yang kedengarannya benar, tapi diam-diam omongan itu malah bikin kita stuck dan nggak maju-maju. Padahal, masalahnya bukan…4 Jun 2026 • GeneralAllTerkait:diam banyak orang baik sering lain
-
21 Kesalahan Karier yang Sering TerjadiDalam dunia kerja, banyak hal yang kelihatannya “baik-baik saja”, tapi ternyata justru jadi penghambat karier. Berikut ini 21 kesalahan yang sering…13 May 2026 • Generalkarier-duniakerja-pengembangandiri-upgradeskill-kerjacerdas-produktivitasTerkait:diam banyak orang baik sering lain
-
Ketika Membantu Orang Lain Mulai Menguras DirimuMenjadi orang yang suka membantu adalah sesuatu yang baik. Kita merasa senang ketika bisa meringankan beban orang lain, membantu teman menyelesaikan pekerjaan,…8 Oct 2026 • GeneralTerkait:berbicara mendengarkan orang baik sering menjadi
-
Menasehati vs. Menggurui dan Kunci Agar DiterimaSeni Menyampaikan Nasehat: Menasehati vs. Menggurui dan Kunci Agar Diterima Dalam dinamika interaksi sosial, baik di lingkungan profesional, pertemanan, maupun keluarga, memberikan…21 Oct 2026 • GeneralTerkait:mendengarkan yaitu orang baik sering kata
-
Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan, Padahal Tahu Deadline Sudah Dekat?Pernah punya pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan dari kemarin, tetapi malah baru dikerjakan ketika deadline tinggal beberapa jam lagi? Padahal, sejak awal…23 Oct 2026 • GeneralTerkait:banyak yaitu orang baik sering menjadi
-
Belajar Beradaptasi Tanpa Kehilangan PrinsipDunia tidak pernah berhenti berubah. Cara kita bekerja berubah, teknologi berkembang semakin cepat, lingkungan sosial terus bergerak, dan tuntutan hidup terkadang datang…19 Oct 2026 • GeneralTerkait:diam banyak mendengarkan orang baik sering
-
Bahaya “Penyakit Typo” di Dunia Kerja ProfesionalSering Dianggap Sepele, Ini Bahaya "Penyakit Typo" di Dunia Kerja Profesional dan Cara Mengatasinya Di era komunikasi serba cepat saat ini, gawai…7 Oct 2026 • GeneralTerkait:banyak orang baik sering kata menjadi

