Home / Topics / Marketing & Sales / Mana sih yang benar, Branding atau Selling dulu?
- This topic has 7 replies, 3 voices, and was last updated 9 months ago by
Albert Yosua Matatula.
Mana sih yang benar, Branding atau Selling dulu?
May 30, 2025 at 10:17 am-
-
Up::1
Branding dan Selling adalah dua cabang Marketing yang selalu diperdebatkan untuk mana yang terlebih dahulu diprioritaskan. Kita tahu zaman social media sekarang ini banyak sekali cara untuk mengangkat orang menjadi influencer, yang ujung-ujungnya menawarkan Skin Care atau produk lainnya. Bener gak?
Dalam Marketing, kegiatan menjadi Influencer itu adalah Personal Branding, sedangkan menawarkan Skin Care atau produk lainnya itu adalah Selling. Jika disederhanakan para influencer ini mengawali dengan Branding dulu kemudian ketika sudah banyak yang trust, followernya ribuan atau jutaan, barulah mereka melakukan kegiatan Selling.
Apakah ini berarti Selling dulu baru Branding adalah salah? atau yang paling tepat adalah Branding dulu kemudian Selling seperti para Influencer? Ada kisah yang sangat terkenal dari Sahabat Nabi Muhammad s.a.w yang dikenal sebagai pebisnis ulung, Abdurrahman bin Auf, yang merupakan salah satu sahabat terkaya dari berdagang atau bisnis. Ketika disuruh untuk mulai dari 0 lagi tanpa modal karena ketika itu seluruh kekayaannya disita oleh kaum Quraisy dan diajak pindah ke Madinah oleh Nabi Muhammad s.a.w tanpa harta benda, Abdurrahman bin Auf memulai berbisnisnya dengan mencari pasar, mencari apa yang dibutuhkan oleh market saat itu, dan kemudian dia sediakan dan dijual dengan menetapkan untung yang sewajarnya. Yang kemudian seiring berjalannya waktu dia berhasil menjadi orang terkaya di Madinah. Kisah Abdurrahman bin Auf ini menggambarkan Aktifitas Marketing dari Selling dulu kemudian Branding.
Artinya tidak ada yang salah tentang Branding dulu atau Selling dulu, yang bisa kita tarik kesimpulan adalah alasan atau motivasi untuk mulai cari uangnya. Para influencer ini butuh waktu untuk mendapatkan closing pertamanya, karena mereka akan fokus pada pembentukan kolam konsumen dulu. Tapi, ketika isi kolam nya sudah banyak maka Tingkat Konversi Closingnya akan bertubi-tubi karena ada trust disitu. Apapun yang dijual akan dimakan sama followernya.
Sedangkan jika kita mulai dari Selling artinya kita butuh Cash Flow cepat, seperti misalnya dalam perusahaan startup yang modalnya minim, yang harus membiayai operasional setiap harinya, gambaran growth perusahaan untuk disajikan kepada para investor, yang intinya Cash is the King Sembari mengerjakan aktifitas Branding yang memang tidak terlalu massive. Ketika sudah Cash Flow aman, saatnya Branding digencarkan untuk mendapatkan closing bertubi-tubi.
Jadi mau Selling atau Branding dulu semuanya punya goals Cuan, gak ada yang salah dari kegiatan itu.
-
Tulisan ini menyajikan sudut pandang yang sangat relevan dan bijak dalam melihat dilema klasik antara Branding dan Selling. Keduanya bukanlah hal yang saling meniadakan, melainkan strategi yang bisa disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan tujuan bisnis saat itu. Kisah para influencer menggambarkan kekuatan Branding dalam membangun kepercayaan jangka panjang, sementara contoh Abdurrahman bin Auf menunjukkan efektivitas Selling dalam merespons kebutuhan pasar secara langsung. Intinya, baik Branding maupun Selling hanyalah alat—arah penggunaannya tergantung urgensi: apakah sedang membangun fondasi jangka panjang atau butuh arus kas cepat. Selama dilakukan dengan strategi yang tepat, tujuan akhirnya tetap sama: menciptakan nilai dan menghasilkan cuan.
-
Betul banget, ini prinsip yang selalu kami pegang. Selalu melihat apapun dari sudut pandang seluas-luasnya, tidak hanya cuman dari 1 POV doang. Karena pasti akan ada banyak jalan untuk setidaknya di coba ketika Marketing View nya tidak hanya satu arah saja.
Terima kasih Kak Lia sudah membaca tulisan saya.
-
-
Saya pribadi setuju dengan pendekatan yang Mas Faisal sampaikan — bahwa tidak ada satu formula yang selalu benar untuk semua kondisi, karena kebutuhan bisnis itu dinamis. Kadang kita perlu membangun trust dulu (branding), kadang kita butuh cash flow dulu (selling). Dua-duanya valid, tergantung urgensinya.
Contoh dari para influencer dan kisah Abdurrahman bin Auf sangat tepat menggambarkan dua jalur yang berbeda tapi sama-sama berhasil. Yang penting, kita paham konteksnya:
• Kalau sedang bangun fondasi jangka panjang → Branding dulu
• Kalau sedang kejar revenue untuk bertahan atau berkembang → Selling duluYang menarik juga, saya lihat banyak brand sekarang menggabungkan keduanya secara paralel, misalnya pakai konten edukatif (branding) sambil selipin CTA ke produk (selling). Jadi bukan pilih salah satu, tapi bagaimana bisa sinkronisasi dua aktivitas ini secara strategis.
-
Setuju banget, ini yang kami coba untuk pelajari. Mengkombinasikan branding dengan CTA selling untuk brand kami.
-
-
Saya setuju banget, memang gak ada yang mutlak “branding dulu” atau “selling dulu” — semuanya harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi bisnis saat itu. Kadang kita butuh fokus bangun trust dulu supaya customer loyal, tapi kadang juga cash flow harus jalan dulu biar bisnis tetap hidup.
Yang saya suka juga dari pendekatan sekarang banyak brand yang menggabungkan kedua hal itu, branding lewat konten edukasi sambil tetap menyisipkan selling lewat CTA yang tepat. Jadi strategi marketing-nya jadi lebih seimbang dan efektif.
Kalau pengalaman Mas Faisal sendiri, gimana sih strategi buat “menjaga keseimbangan” antara branding dan selling di satu kampanye? Apakah ada prioritas tertentu atau lebih fleksibel sesuai situasi?
-
Untuk saat ini, kami fokus untuk selling dulu. Branding partnya gak se-massive itu, karena untuk periode jangka pendek ini dituntut untuk perbaikan cash flow.
-
-
Pendekatan “selling dulu sambil jalanin branding pelan-pelan” menurut saya sangat relevan, terutama untuk bisnis yang sedang fokus membenahi cash flow atau berada di tahap early stage. Justru strategi seperti ini menunjukkan bahwa tim marketing paham betul soal prioritas dan konteks.
Yang penting menurut saya: meskipun fokus utama saat ini adalah selling, elemen branding tetap tidak diabaikan sepenuhnya. Bahkan hal-hal kecil seperti tone of voice di caption, konsistensi visual, hingga cara kita handle DM dari calon pembeli—semua itu secara tidak langsung sedang membangun brand impression juga.
Nanti ketika cash flow mulai stabil dan ruang untuk eksplorasi makin luas, aktivitas branding bisa digas lebih masif dan menyatu lebih kuat dengan strategi jangka panjang.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Perdagangan Karbon di Indonesia Pasca POJK 14/2023: Peluang dan TantanganIndonesia, sebagai negara dengan luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, memiliki peran strategis dalam pengendalian perubahan iklim global. Namun, deforestasi dan…20 Jun 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
B2B Sales harus paham 10 hal1. Semakin kompleks proses pengambilan keputusan client, semakin besar biaya yg harus dikeluarkan oleh salesman. Make it worth it! 2. Decision maker…14 Aug 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:mana benar branding selling
-
Pelajaran Bisnis Penting dari Sukses FamilyMart IndonesiaDalam beberapa tahun terakhir, kehadiran FamilyMart di Indonesia semakin mencolok. Dari sekadar toko swalayan waralaba asal Jepang, FamilyMart menjelma menjadi gaya hidup…16 Feb 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih benar
-
Sales Selalu Nombok, Target Closing Gagal: Gimana Caranya Kembali Berdaya?”Hai sobat Mekari Community! Siapa di sini yang ngalamin fase "sales selalu nombok, target closing tidak pernah tercapai"? Kalau kamu salah satunya,…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih benar dulu
-
AI-Driven Creativity vs Brand Authenticity: Sinergi, Bukan PertentanganDi era digital yang serba cepat ini, muncul pertanyaan menarik: apakah kreativitas manusia akan tergeser oleh kecerdasan buatan (AI)? Atau justru, AI…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana
-
Marketing 2025: Strategi Baru untuk Tetap Relevan di Era Perubahan CepatTahun 2025 menjadi masa paling dinamis dalam dunia marketing. Perubahan terjadi bukan lagi dalam hitungan tahun, tetapi hari ke hari. Algoritma bergeser,…13 Nov 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:mana
-
Cara Mengirimkan KontakSaya mau menanyakan terkait fitur mengirim kontak, kenapa saya tidak menemukannya?, apakah memang fitur tersebut ditiadakan?, karena ini cukup merepotkan ketika saya…26 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana benar
-
Marketing 2025:Bukan Hnya Jual Produk,Tpi Menjual Hub. yg Dipersonalisasi olh AIMarketing 2025: Bukan Hanya Jual Produk, Tapi Menjual Hubungan yang Dipersonalisasi oleh AI! 🤖❤️ Halo Rekan-rekan Komunitas! Perkembangan marketing di paruh kedua…13 Nov 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih
-
Optimalkan IE-CEPA: Peluang Besar bagi UMKM dan Dunia Usaha IndonesiaHalo rekan-rekan Mekari Community, Saya ingin membagikan insight penting terkait pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Wakil Presiden Konfederasi…8 Oct 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih
-
Senjata Rahasia Karier: Kata, Pikiran, Kehadiran!Kata-kata, pikiran, dan kehadiran Anda adalah alat ampuh yang sering kali diremehkan orang. Efek kumulatifnya bisa mengubah arah karier Anda secara dramatis.…7 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih dulu
-
Program Paket Ekonomi 2025 – Langkah Strategis atau Solusi Sementara?Halo Fintax Community, Saya ingin mengangkat diskusi terkait peluncuran Program Paket Ekonomi 2025 oleh pemerintah, yang baru saja diumumkan dengan total pagu…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih benar
-
Ini Rahasia Bikin Suara Anda Dipercaya dan Didengar🚨 Ini dia rahasia yang jarang dibicarakan orang: Percaya diri itu modal awal biar Anda bisa 'masuk' ke suatu lingkungan atau obrolan.…18 Sep 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:mana sih benar