Home / Topics / Marketing & Sales / Mana sih yang benar, Branding atau Selling dulu?
- This topic has 8 replies, 4 voices, and was last updated 5 months, 1 week ago by
AKHMAD.
Mana sih yang benar, Branding atau Selling dulu?
May 30, 2025 at 10:17 am-
-
Up::1
Branding dan Selling adalah dua cabang Marketing yang selalu diperdebatkan untuk mana yang terlebih dahulu diprioritaskan. Kita tahu zaman social media sekarang ini banyak sekali cara untuk mengangkat orang menjadi influencer, yang ujung-ujungnya menawarkan Skin Care atau produk lainnya. Bener gak?
Dalam Marketing, kegiatan menjadi Influencer itu adalah Personal Branding, sedangkan menawarkan Skin Care atau produk lainnya itu adalah Selling. Jika disederhanakan para influencer ini mengawali dengan Branding dulu kemudian ketika sudah banyak yang trust, followernya ribuan atau jutaan, barulah mereka melakukan kegiatan Selling.
Apakah ini berarti Selling dulu baru Branding adalah salah? atau yang paling tepat adalah Branding dulu kemudian Selling seperti para Influencer? Ada kisah yang sangat terkenal dari Sahabat Nabi Muhammad s.a.w yang dikenal sebagai pebisnis ulung, Abdurrahman bin Auf, yang merupakan salah satu sahabat terkaya dari berdagang atau bisnis. Ketika disuruh untuk mulai dari 0 lagi tanpa modal karena ketika itu seluruh kekayaannya disita oleh kaum Quraisy dan diajak pindah ke Madinah oleh Nabi Muhammad s.a.w tanpa harta benda, Abdurrahman bin Auf memulai berbisnisnya dengan mencari pasar, mencari apa yang dibutuhkan oleh market saat itu, dan kemudian dia sediakan dan dijual dengan menetapkan untung yang sewajarnya. Yang kemudian seiring berjalannya waktu dia berhasil menjadi orang terkaya di Madinah. Kisah Abdurrahman bin Auf ini menggambarkan Aktifitas Marketing dari Selling dulu kemudian Branding.
Artinya tidak ada yang salah tentang Branding dulu atau Selling dulu, yang bisa kita tarik kesimpulan adalah alasan atau motivasi untuk mulai cari uangnya. Para influencer ini butuh waktu untuk mendapatkan closing pertamanya, karena mereka akan fokus pada pembentukan kolam konsumen dulu. Tapi, ketika isi kolam nya sudah banyak maka Tingkat Konversi Closingnya akan bertubi-tubi karena ada trust disitu. Apapun yang dijual akan dimakan sama followernya.
Sedangkan jika kita mulai dari Selling artinya kita butuh Cash Flow cepat, seperti misalnya dalam perusahaan startup yang modalnya minim, yang harus membiayai operasional setiap harinya, gambaran growth perusahaan untuk disajikan kepada para investor, yang intinya Cash is the King Sembari mengerjakan aktifitas Branding yang memang tidak terlalu massive. Ketika sudah Cash Flow aman, saatnya Branding digencarkan untuk mendapatkan closing bertubi-tubi.
Jadi mau Selling atau Branding dulu semuanya punya goals Cuan, gak ada yang salah dari kegiatan itu.
-
Tulisan ini menyajikan sudut pandang yang sangat relevan dan bijak dalam melihat dilema klasik antara Branding dan Selling. Keduanya bukanlah hal yang saling meniadakan, melainkan strategi yang bisa disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan tujuan bisnis saat itu. Kisah para influencer menggambarkan kekuatan Branding dalam membangun kepercayaan jangka panjang, sementara contoh Abdurrahman bin Auf menunjukkan efektivitas Selling dalam merespons kebutuhan pasar secara langsung. Intinya, baik Branding maupun Selling hanyalah alat—arah penggunaannya tergantung urgensi: apakah sedang membangun fondasi jangka panjang atau butuh arus kas cepat. Selama dilakukan dengan strategi yang tepat, tujuan akhirnya tetap sama: menciptakan nilai dan menghasilkan cuan.
-
Betul banget, ini prinsip yang selalu kami pegang. Selalu melihat apapun dari sudut pandang seluas-luasnya, tidak hanya cuman dari 1 POV doang. Karena pasti akan ada banyak jalan untuk setidaknya di coba ketika Marketing View nya tidak hanya satu arah saja.
Terima kasih Kak Lia sudah membaca tulisan saya.
-
-
Saya pribadi setuju dengan pendekatan yang Mas Faisal sampaikan — bahwa tidak ada satu formula yang selalu benar untuk semua kondisi, karena kebutuhan bisnis itu dinamis. Kadang kita perlu membangun trust dulu (branding), kadang kita butuh cash flow dulu (selling). Dua-duanya valid, tergantung urgensinya.
Contoh dari para influencer dan kisah Abdurrahman bin Auf sangat tepat menggambarkan dua jalur yang berbeda tapi sama-sama berhasil. Yang penting, kita paham konteksnya:
• Kalau sedang bangun fondasi jangka panjang → Branding dulu
• Kalau sedang kejar revenue untuk bertahan atau berkembang → Selling duluYang menarik juga, saya lihat banyak brand sekarang menggabungkan keduanya secara paralel, misalnya pakai konten edukatif (branding) sambil selipin CTA ke produk (selling). Jadi bukan pilih salah satu, tapi bagaimana bisa sinkronisasi dua aktivitas ini secara strategis.
-
Setuju banget, ini yang kami coba untuk pelajari. Mengkombinasikan branding dengan CTA selling untuk brand kami.
-
-
Saya setuju banget, memang gak ada yang mutlak “branding dulu” atau “selling dulu” — semuanya harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi bisnis saat itu. Kadang kita butuh fokus bangun trust dulu supaya customer loyal, tapi kadang juga cash flow harus jalan dulu biar bisnis tetap hidup.
Yang saya suka juga dari pendekatan sekarang banyak brand yang menggabungkan kedua hal itu, branding lewat konten edukasi sambil tetap menyisipkan selling lewat CTA yang tepat. Jadi strategi marketing-nya jadi lebih seimbang dan efektif.
Kalau pengalaman Mas Faisal sendiri, gimana sih strategi buat “menjaga keseimbangan” antara branding dan selling di satu kampanye? Apakah ada prioritas tertentu atau lebih fleksibel sesuai situasi?
-
Untuk saat ini, kami fokus untuk selling dulu. Branding partnya gak se-massive itu, karena untuk periode jangka pendek ini dituntut untuk perbaikan cash flow.
-
-
Pendekatan “selling dulu sambil jalanin branding pelan-pelan” menurut saya sangat relevan, terutama untuk bisnis yang sedang fokus membenahi cash flow atau berada di tahap early stage. Justru strategi seperti ini menunjukkan bahwa tim marketing paham betul soal prioritas dan konteks.
Yang penting menurut saya: meskipun fokus utama saat ini adalah selling, elemen branding tetap tidak diabaikan sepenuhnya. Bahkan hal-hal kecil seperti tone of voice di caption, konsistensi visual, hingga cara kita handle DM dari calon pembeli—semua itu secara tidak langsung sedang membangun brand impression juga.
Nanti ketika cash flow mulai stabil dan ruang untuk eksplorasi makin luas, aktivitas branding bisa digas lebih masif dan menyatu lebih kuat dengan strategi jangka panjang.
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Produkmu Itu Dijual Kepada Siapa sih Sebenarnya?Banyak yang bilang ketika ditanya seputar produk, "Eh target Market mu itu siapa?" dan akan dijawab "Target Market saya adalah semua Orang,…25 May 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all selling benar dulu sih kemudian
-
Tipe Konsumen Seperti Apa Kalian?Kita sebagai kosumer mempunyai pola belanja yang berbeda Ada yang suka riset panjang sebelum beli, ada yang gampang tergoda diskon, ada juga…1 Jun 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all mana sih mana dulu sih ada
-
Cukup Yakinkan Satu Orang DuluDalam dunia marketing, kita sering terjebak dengan angka besar. Rasanya sukses itu kalau: Ribuan orang klik iklan kita Jutaan orang lihat konten…16 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all dulu influencer ada marketing mulai
-
Kalau Marketing Gampang, Semua Bisnis Udah Kaya!Banyak yang ngira kerjaan orang marketing itu cuma: “Kasih budget, nanti juga laku.” Padahal kenyataannya jauh dari kata sesederhana itu. Menaikkan omzet…25 May 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all branding dulu sih ada marketing
-
Marketing Door to Door di Tengah Gejolak Sosial: Tantangan, & StrategiDalam beberapa hari terakhir, situasi sosial di Indonesia diwarnai dengan aksi-aksi massa. Berbagai isu mulai dari kebijakan pemerintah atas tunjangan DPR yang…16 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all salah ada marketing menjadi banyak
-
Ilmu Marketing itu membuatku semakin BodohBelajar marketing adalah tantangan tersendiri dengan banyak sekali cabang-cabang keilmuan yang dipunyai. Seperti banyak orang pintar bilang, "hal yang paling bodoh adalah…25 May 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all dulu salah marketing menjadi banyak
-
Jika Tidak Ada yang Melirik Iklanmu, maka Pelajarilah CopywritingApakah CTR kampanye iklan Anda masih mentok di 0,55%? CTR atau Click Through Rate adalah salah satu Indikator paling penting dalam metrics…25 May 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all salah ada marketing menjadi banyak
-
Jika Fundamental Meta Ads sudah tepat, Maka dimanapun Ngiklan pasti akan winningMeta Ads ternyata jelek banget untuk dijadikan kanal marketing karena tidak mendatangkan konversi di bisnisku. Itu adalah sebagian kecil komplain terkait Meta…25 May 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all mana dulu ada marketing menjadi
-
Sales Selalu Nombok, Target Closing Gagal: Gimana Caranya Kembali Berdaya?”Hai sobat Mekari Community! Siapa di sini yang ngalamin fase "sales selalu nombok, target closing tidak pernah tercapai"? Kalau kamu salah satunya,…15 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all benar dulu salah ada banyak
-
Marketing 2025:Bukan Hnya Jual Produk,Tpi Menjual Hub. yg Dipersonalisasi olh AIMarketing 2025: Bukan Hanya Jual Produk, Tapi Menjual Hubungan yang Dipersonalisasi oleh AI! 🤖❤️ Halo Rekan-rekan Komunitas! Perkembangan marketing di paruh kedua…16 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all mana influencer ada marketing menjadi
-
Senjata Rahasia Karier: Kata, Pikiran, Kehadiran!Kata-kata, pikiran, dan kehadiran Anda adalah alat ampuh yang sering kali diremehkan orang. Efek kumulatifnya bisa mengubah arah karier Anda secara dramatis.…13 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all mana dulu salah marketing menjadi
-
B2B Sales harus paham 10 hal1. Semakin kompleks proses pengambilan keputusan client, semakin besar biaya yg harus dikeluarkan oleh salesman. Make it worth it! 2. Decision maker…16 Apr 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:all branding selling ada menjadi mendapatkan
