Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 11 replies, 3 voices, and was last updated 1 day, 1 hour ago by Amilia Desi Marthasari.

Seberapa Pentingnya Ketelitian untuk HR ?

August 26, 2025 at 11:14 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 11 replies
      View Icon 7  views
        Up
        0
        ::

        HR bukan hanya soal administrasi, tapi juga soal trust.
        Sedikit saja salah tulis angka, nama, atau dokumen, dampaknya bisa panjang. Itulah kenapa ketelitian adalah kunci utama bagi seorang HR. Bahkan bisa dibilang salah satu soft skill paling krusial. Alasannya:

        1. Menyangkut Data Karyawan yang Sensitif

        HR mengelola data pribadi, gaji, kontrak kerja, hingga dokumen hukum.
        Sedikit saja kesalahan input (misalnya angka gaji, NIK, atau tanggal kontrak), dampaknya bisa serius: salah pembayaran, masalah hukum, atau bahkan gugatan karyawan.

        2. Rekrutmen & Seleksi

        Ketelitian dibutuhkan saat menilai CV, hasil tes, atau rekam jejak kandidat.
        Jika kurang teliti, HR bisa salah pilih: kandidat yang tidak kompeten lolos, sementara kandidat potensial terlewat. Itu bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

        3. Kepatuhan Hukum & Administrasi

        HR berhubungan dengan regulasi ketenagakerjaan, BPJS, pajak, dan kontrak.
        Kesalahan sekecil apapun bisa berujung pada sanksi dari pemerintah atau reputasi buruk bagi perusahaan.

        4. Komunikasi & Hubungan Karyawan

        Ketelitian bukan hanya soal data, tapi juga soal memperhatikan detail saat berinteraksi.
        HR yang teliti bisa membaca konteks masalah karyawan dengan tepat, sehingga solusi yang diberikan lebih adil dan bijak.

        5. Menjaga Kepercayaan

        Karyawan dan manajemen mempercayakan banyak hal penting ke HR.
        Kalau HR sering salah hitung cuti, telat proses gaji, atau keliru dalam surat peringatan, trust akan runtuh.
        Sebaliknya, ketelitian menunjukkan profesionalisme, respect terhadap pekerjaan, karyawan, dan perusahaan.

        Jadi, kalau ditanya: apakah ketelitian penting untuk HR?
        Jawabannya: Bukan hanya penting, tapi wajib.
        Karena HR yang teliti = HR yang dipercaya.
        Karena ketelitian HR bukan hanya soal detail administratif, tapi wujud respect tiga arah:
        – ke pekerjaan (profesionalitas)
        – ke karyawan (keadilan & empati)
        – ke perusahaan (integritas & keberlanjutan)

        Menurut Anda bagaimana cara HR menyeimbangkan kecepatan kerja dengan ketelitian, terutama ketika beban kerja tinggi? dan apakah teknologi (HRIS, payroll software) bisa menggantikan peran ketelitian manusia dalam HR, atau justru hanya sebagai pendukung?

      • Lia
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Achievement ThumbnailAchievement Thumbnail
        Image 11 replies
        View Icon 7  views

          “Setuju banget, k’AmiLia! Tulisan ini on point dan detailnya pas.

          Untuk pertanyaanmu, menurutku kuncinya ada di proses yang sistematis. HR harus punya checklist untuk setiap tugas, dari rekrutmen sampai payroll, biar enggak ada yang terlewat meskipun dikejar deadline.

          Soal teknologi, aku lihatnya teknologi itu mendukung, bukan menggantikan. Misalnya, software bisa otomatis menghitung gaji, tapi ketelitian manusia tetap perlu untuk memastikan data awal yang diinput sudah benar. Teknologi cuma mempercepat, tapi validasi akhirnya tetap di tangan HR. Terima kasih sudah sharing!”

          • Albert Yosua
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Achievement Thumbnail
            Image 11 replies
            View Icon 7  views

              Terima kasih insight-nya, Kak Lia! 🙏 Saya sepakat banget dengan pandangan Kak Lia—checklist dan sistem kerja yang rapi memang jadi fondasi penting supaya HR tetap teliti meski diburu waktu.

            • Albert Yosua
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Achievement Thumbnail
              Image 11 replies
              View Icon 7  views

                Poin soal teknologi juga menarik. Benar banget, automation bisa bantu efisiensi, tapi kalau data awalnya salah, hasil akhirnya tetap keliru. Jadi HR tetap perlu punya “mata tajam” untuk validasi. Di sini justru makin kelihatan bahwa teknologi bukan pengganti, tapi partner kerja yang harus dikelola dengan bijak.

              • Albert Yosua
                Participant
                GamiPress Thumbnail
                Achievement Thumbnail
                Image 11 replies
                View Icon 7  views

                  Pertanyaan Lanjutan:

                  Menurut Kak Lia, dalam praktiknya, bagaimana HR bisa menjaga ketelitian ketika harus multitasking atau menangani hal yang sifatnya emosional—misalnya kasus konflik karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK)? Apakah ada pendekatan khusus agar aspek teknis dan empati bisa tetap jalan beriringan?

                • Albert Yosua
                  Participant
                  GamiPress Thumbnail
                  Achievement Thumbnail
                  Image 11 replies
                  View Icon 7  views

                    Jadi makin sadar, jadi HR itu harus balance banget antara logika, detail, dan perasaan. 😅

                • Albert Yosua
                  Participant
                  GamiPress Thumbnail
                  Achievement Thumbnail
                  Image 11 replies
                  View Icon 7  views

                    Terima kasih banyak, Kak Amilia, tulisannya insightful dan sangat relevan! 🙌

                  • Albert Yosua
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Achievement Thumbnail
                    Image 11 replies
                    View Icon 7  views

                      Saya setuju bahwa ketelitian bukan cuma soal akurasi administrasi, tapi juga mencerminkan profesionalitas dan rasa hormat terhadap semua pihak—karyawan, perusahaan, dan peran HR itu sendiri. Penjelasan Kak Amilia soal bagaimana kesalahan kecil bisa berdampak besar benar-benar membuka perspektif, terutama buat kami yang masih belajar menekuni bidang ini.

                    • Albert Yosua
                      Participant
                      GamiPress Thumbnail
                      Achievement Thumbnail
                      Image 11 replies
                      View Icon 7  views

                        Pertanyaan Lanjutan:

                        Dalam praktiknya, bagaimana cara Kak Amilia melatih atau menanamkan ketelitian pada tim HR, terutama untuk anggota baru yang belum terbiasa bekerja dengan beban data dan dokumen yang tinggi? Apakah ada kebiasaan atau metode khusus yang Kakak terapkan agar ketelitian jadi budaya kerja, bukan hanya tuntutan?

                        • Amilia Desi Marthasari
                          Participant
                          GamiPress Thumbnail
                          Image 11 replies
                          View Icon 7  views

                            Supaya ketelitian tidak hanya jadi “tuntutan” tapi budaya kerja yang melekat, saya ada beberapa cara yang bisa diterapkan, khususnya untuk karyawan baru.
                            Yang pertama, terapkan Mindset sejak awal. Tekankan bahwa HR adalah penjaga data & trust perusahaan.Bukan sekadar administrasi, tapi “gatekeeper” yang menjamin kebenaran informasi dan keadilan. Dengan mindset ini, anggota baru akan lebih hati-hati karena paham konsekuensi pekerjaannya.
                            Yang Kedua, WAJIB & Harus double Check setiap dokumen yg keluar.Terapkan budaya tidak ada dokumen atau data keluar tanpa dicek 2 kali.
                            Yang ketiga, Latihan dengan Simulasi. Sebelum diberi data asli, anggota baru bisa dilatih dengan kasus simulasi (contoh data dummy).
                            Misalnya: latihan menghitung payroll, menyusun kontrak, atau input data di HRIS → lalu dibandingkan dengan hasil yang benar.

                        • Albert Yosua
                          Participant
                          GamiPress Thumbnail
                          Achievement Thumbnail
                          Image 11 replies
                          View Icon 7  views

                            Dan satu lagi, kalau boleh tahu—menurut Kakak, bagaimana cara terbaik menghadapi situasi saat kesalahan (yang tidak disengaja) sudah terlanjur terjadi, tapi harus tetap menjaga kepercayaan dari karyawan maupun manajemen?

                            • Amilia Desi Marthasari
                              Participant
                              GamiPress Thumbnail
                              Image 11 replies
                              View Icon 7  views

                                Kuncinya ada di cara menyikapi dan memperbaikinya, bukan sekadar menyesali. Baik manajemen maupun karyawan biasanya bisa menerima kalau kita punya respons yang tepat dan tidak lari dari tanggung jawab. Jangan menunggu orang lain menemukan atau membesar-besarkan.
                                Akui secara jujur: “Ya, ini terjadi di bagian saya, dan saya sedang mengupayakan perbaikan.”
                                Transparansi akan menjaga kepercayaan jauh lebih kuat dibanding menutupinya.
                                Hindari terlalu banyak pembelaan seperti “soalnya saya…” → ini bisa terdengar defensif.
                                Jika kesalahan menyangkut tim, ajak mereka dalam perbaikan.
                                Kepercayaan tidak hilang hanya karena satu kesalahan, tapi bisa hilang kalau kesalahan itu ditutupi atau direspons dengan defensif. Dengan sikap jujur, proaktif, dan solutif, justru Anda bisa keluar dengan reputasi lebih baik—karena terbukti mampu mengelola krisis.

                          Viewing 5 reply threads
                          • You must be logged in to reply to this topic.
                          Image

                          Bergabung & berbagi bersama kami

                          Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!