Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 9 replies, 3 voices, and was last updated 1 week, 1 day ago by Edi Gunawan.

BEKERJA & LOYALITAS: ANTARA SETIA, BERTUMBUH, DAN MENJAGA DIRI SENDIRI

December 23, 2025 at 7:01 pm
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 9 replies
      View Icon 30 views
        Up
        0
        ::

        Di dunia kerja, kata loyalitas sering terdengar mulia.
        Setia pada perusahaan.
        Bertahan saat sulit.
        Tidak mudah pindah.
        Mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan.

        Namun pertanyaannya:
        Apakah loyalitas selalu berarti bertahan tanpa batas?
        Atau justru tentang komitmen yang sehat dan sadar?

        Mari kita bicarakan loyalitas dengan jujur.

        1. Loyalitas Bukan Sekadar Bertahan Lama
        Banyak orang mengira loyalitas diukur dari berapa tahun seseorang bekerja di satu tempat.
        Padahal, durasi tidak selalu mencerminkan kualitas.

        Ada yang bertahun-tahun bekerja, tapi:

        Datang hanya karena kewajiban
        Tidak lagi peduli pada hasil
        Kehilangan rasa memiliki
        Hanya menunggu tanggal gajian
        Sebaliknya, ada yang bekerja lebih singkat tapi:

        Memberi dampak nyata
        Menjaga integritas
        Menjalankan tanggung jawab sepenuh hati
        Loyalitas bukan soal lama tinggal, tapi bagaimana kita hadir selama bekerja.

        2. Loyalitas Dimulai dari Profesionalisme
        Loyalitas paling dasar bukan kepada perusahaan, tapi kepada pekerjaan itu sendiri.

        Datang tepat waktu.
        Menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab.
        Tidak mengorbankan kualitas meski tidak diawasi.
        Tidak menyalahgunakan kepercayaan.

        Inilah bentuk loyalitas yang sering diremehkan, padahal paling nyata.

        Bukan janji besar.
        Bukan kata-kata manis.
        Tapi konsistensi dalam hal kecil.

        3. Loyalitas Tidak Sama dengan Mengorbankan Diri Tanpa Batas
        Ini penting.

        Loyalitas bukan:

        Mengabaikan kesehatan mental
        Menoleransi perlakuan tidak adil
        Diam saat batas pribadi dilanggar
        Terus memberi saat diri sendiri hancur
        Bekerja keras itu mulia.
        Tapi bekerja sampai kehilangan diri sendiri bukan loyalitas — itu pengabaian diri.

        Loyalitas yang sehat selalu punya batas.

        4. Loyalitas Adalah Hubungan Dua Arah
        Kita sering dituntut loyal.
        Namun jarang bertanya: apakah tempat kerja juga loyal pada kita?

        Loyalitas idealnya timbal balik:

        Karyawan memberi kontribusi
        Perusahaan memberi penghargaan
        Karyawan menjaga komitmen
        Perusahaan menjaga keadilan
        Jika hanya satu pihak yang terus memberi, maka itu bukan loyalitas — itu ketimpangan.

        5. Loyalitas Bukan Berarti Menutup Mata
        Menjadi loyal tidak berarti:

        Tidak boleh mengkritik
        Tidak boleh memberi masukan
        Tidak boleh berbeda pendapat
        Justru, loyalitas sejati berani berkata:

        “Ini perlu diperbaiki, karena saya peduli.”
        Diam terhadap masalah bukan tanda setia.
        Kadang, itu tanda lelah atau takut.

        6. Loyalitas dan Rasa Memiliki
        Orang yang loyal biasanya punya sense of belonging.

        Mereka:

        Tidak bekerja asal jadi
        Tidak merasa “bukan urusan saya”
        Tidak merusak reputasi tempat kerja
        Tidak meninggalkan masalah begitu saja
        Rasa memiliki ini tumbuh ketika:

        Kontribusi dihargai
        Suara didengar
        Usaha diakui
        Loyalitas sulit tumbuh di tempat yang hanya menuntut tanpa menghargai.

        7. Loyalitas Tidak Membunuh Ambisi
        Ada anggapan bahwa orang loyal tidak ambisius.
        Padahal justru sebaliknya.

        Orang loyal:

        Ingin tempatnya bertumbuh
        Ingin sistem lebih baik
        Ingin tim lebih kuat
        Ambisi yang sehat bukan untuk meninggalkan, tapi untuk membangun dari dalam.

        Masalah muncul ketika:

        Ambisi dibatasi
        Potensi diabaikan
        Perkembangan ditutup
        Di titik itu, bertahan bukan lagi soal loyalitas, tapi kebingungan.

        8. Loyalitas vs Takut Keluar
        Ini juga harus jujur.

        Tidak semua yang bertahan itu loyal.
        Sebagian bertahan karena:

        Takut mulai dari nol
        Takut kehilangan penghasilan
        Takut dinilai gagal
        Takut zona nyaman hilang
        Loyalitas lahir dari pilihan sadar, bukan dari ketakutan.

        Jika bertahan hanya karena takut, mungkin yang dibutuhkan bukan loyalitas, tapi keberanian.

        9. Loyalitas pada Nilai, Bukan Sekadar Nama Besar
        Perusahaan bisa berganti arah.
        Atasan bisa berubah.
        Struktur bisa bergeser.

        Yang seharusnya kita jaga adalah loyalitas pada nilai:

        Kejujuran
        Tanggung jawab
        Etika kerja
        Martabat diri
        Ketika lingkungan kerja menuntut kita melanggar nilai-nilai itu, loyalitas perlu ditinjau ulang.

        10. Loyalitas dan Pertumbuhan Diri
        Loyalitas tidak boleh membuat kita berhenti bertumbuh.

        Tempat kerja yang sehat:

        Mendorong belajar
        Memberi ruang berkembang
        Tidak takut karyawannya pintar
        Sebaliknya, jika loyalitas dimaknai sebagai:

        “Jangan banyak bertanya, jangan berkembang terlalu jauh”
        Maka itu bukan loyalitas, melainkan pengekangan.

        11. Loyalitas Itu Terlihat Saat Sulit
        Masa mudah tidak pernah menguji loyalitas.
        Semua orang bisa setia saat kondisi nyaman.

        Loyalitas diuji saat:

        Target tidak tercapai
        Perusahaan sedang turun
        Tim mengalami konflik
        Keadaan tidak ideal
        Namun ingat: bertahan di masa sulit harus disertai arah yang jelas, bukan janji kosong.

        12. Loyalitas Bukan Alasan untuk Tidak Dihargai
        Tidak ada penghargaan yang lebih menyakitkan daripada:

        “Kamu kan sudah biasa begini.”
        Loyalitas bukan alasan untuk:

        Tidak dinaikkan gaji
        Tidak diberi kesempatan
        Terus dibebani
        Dianggap selalu tersedia
        Loyalitas tetap butuh pengakuan, meski tidak selalu dalam bentuk materi.

        13. Loyalitas dan Keputusan Pergi
        Pergi tidak selalu berarti tidak loyal.

        Kadang, pergi adalah bentuk:

        Kejujuran pada diri sendiri
        Menghormati batas
        Menjaga kesehatan mental
        Memberi ruang bagi orang lain
        Seseorang bisa pergi dengan tetap menjaga nama baik, tanggung jawab, dan etika.
        Itu pun bentuk loyalitas — pada nilai dan profesionalisme.

        14. Loyalitas yang Dewasa
        Loyalitas yang dewasa itu:

        Tidak buta
        Tidak memaksa
        Tidak menuntut pengorbanan sepihak
        Tidak membungkam suara
        Ia tenang, sadar, dan tahu kapan memberi, kapan menjaga diri.

        15. Penutup: Loyal, Tapi Jangan Hilang
        Bekerjalah dengan hati.
        Bersikaplah profesional.
        Pegang komitmen.
        Jaga integritas.

        Namun jangan sampai loyalitas membuatmu:

        Kehilangan kesehatan
        Kehilangan harga diri
        Kehilangan arah hidup
        Karena pada akhirnya,
        tempat kerja adalah bagian dari hidup —
        bukan seluruh hidupmu.

        Loyalitas sejati bukan tentang siapa yang paling lama bertahan,
        tetapi siapa yang paling jujur, bertanggung jawab, dan tetap utuh sebagai manusia.

      • Albert Yosua Matatula
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 9 replies
        View Icon 30 views

          Sekali lagi terima kasih, Kak Amilia, atas tulisan yang sangat kaya makna ini. Diskusi ini menurut saya penting untuk terus dibicarakan, agar loyalitas tidak lagi dimaknai sebagai pengorbanan buta, tetapi sebagai pilihan sadar yang tetap menjaga kemanusiaan kita sendiri.

        • Albert Yosua Matatula
          Participant
          GamiPress Thumbnail
          Image 9 replies
          View Icon 30 views

            Selain itu, menurut Kak Amilia, bagaimana sikap yang ideal bagi karyawan ketika merasa nilai-nilai pribadinya mulai bertabrakan dengan budaya atau arah perusahaan, tetapi masih memiliki rasa memiliki terhadap timnya? Apakah bertahan sambil beradaptasi, atau justru pergi dengan cara yang baik adalah bentuk loyalitas yang lebih dewasa?

          • Albert Yosua Matatula
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Image 9 replies
            View Icon 30 views

              Dari semua poin tersebut, saya ingin bertanya, Kak Amilia: bagaimana cara membedakan secara jujur antara bertahan karena loyalitas yang sehat dengan bertahan karena takut atau merasa tidak punya pilihan lain? Apakah ada tanda-tanda tertentu yang bisa kita refleksikan dalam diri sendiri?

            • Albert Yosua Matatula
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Image 9 replies
              View Icon 30 views

                Bagian tentang loyalitas yang tidak membunuh ambisi juga sangat menarik. Ambisi sering kali disalahartikan sebagai keinginan untuk pergi, padahal ambisi bisa menjadi bentuk kepedulian agar organisasi bertumbuh lebih baik. Namun, ketika potensi terus dibatasi, bertahan memang bisa berubah menjadi kebingungan, seperti yang Kak Amilia tuliskan.

              • Albert Yosua Matatula
                Participant
                GamiPress Thumbnail
                Image 9 replies
                View Icon 30 views

                  Saya juga tertarik dengan pembahasan bahwa loyalitas adalah hubungan dua arah. Dalam praktiknya, sering kali tuntutan loyalitas lebih banyak dibebankan pada karyawan, sementara bentuk loyalitas dari perusahaan kurang terlihat. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana cara karyawan menilai apakah sebuah perusahaan benar-benar membangun hubungan yang adil dan seimbang?

                • Albert Yosua Matatula
                  Participant
                  GamiPress Thumbnail
                  Image 9 replies
                  View Icon 30 views

                    Poin tentang loyalitas yang tidak sama dengan mengorbankan diri tanpa batas juga terasa sangat kuat. Banyak orang, termasuk mungkin generasi muda, sering merasa bersalah ketika ingin menarik batas demi kesehatan mental atau harga diri. Padahal, seperti yang Kak Amilia sampaikan, loyalitas yang sehat justru memiliki batas yang jelas dan disadari.

                  • Albert Yosua Matatula
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Image 9 replies
                    View Icon 30 views

                      Terima kasih banyak, Kak Amilia, atas tulisan yang sangat jujur dan membuka mata tentang makna loyalitas di dunia kerja. Tulisan ini terasa relevan, terutama bagi banyak orang yang sering berada di persimpangan antara bertahan, berkembang, atau menjaga diri sendiri. Saya pribadi merasa tulisan ini tidak menghakimi, tetapi mengajak pembaca untuk berpikir lebih dewasa dan sadar dalam memaknai loyalitas.

                    • Albert Yosua Matatula
                      Participant
                      GamiPress Thumbnail
                      Image 9 replies
                      View Icon 30 views

                        Saya sangat setuju dengan poin bahwa loyalitas bukan sekadar soal lamanya bekerja. Selama ini, memang masih banyak stigma bahwa pindah kerja identik dengan tidak setia, padahal kualitas kontribusi dan sikap profesional jauh lebih penting daripada sekadar durasi. Bagian ini membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya loyalitas dinilai, baik oleh individu maupun oleh perusahaan.

                      • Edi Gunawan
                        Participant
                        GamiPress Thumbnail
                        Image 9 replies
                        View Icon 30 views

                          wah menarik sekali topik dari Kak Amilia,
                          ini banyak terjadi di perusahaan perusahaan, yang menilai loyalitas itu hanya berfokus pada apa yang dilakukan oleh karyawan (seperti, ga pulang tenggo, kapan saja bisa dihubungi, dan lainnya), sementara dari sisi penghargaan belum tentu ada sama sekali,
                          karyawan yang peduli dengan lebih bersuara (peduli dan ingin berkembang bersama perusahaan) tapi dianggap sebagai pembangkang dan lainnya.

                      Viewing 9 reply threads
                      • You must be logged in to reply to this topic.
                      Image

                      Bergabung & berbagi bersama kami

                      Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!