Apakah anda mencari sesuatu?

Ketika Diam Bukan Lemah, Tapi Puncak Kedewasaan

December 29, 2025 at 7:58 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 9 replies
      View Icon 6  views
        Up
        0
        ::

        Kita hidup di zaman yang serba cepat.
        Cepat merespons.
        Cepat menilai.
        Cepat tersinggung.
        Cepat ingin dimengerti, tapi lambat memahami.

        Di tengah dunia seperti ini, ada satu sikap yang terdengar kuno, bahkan sering dianggap kelemahan: sabar.
        Namun bukan sabar biasa.
        Yang kita bicarakan hari ini adalah sabar tingkat dewa.

        Sabar yang bukan sekadar menahan emosi,
        melainkan menaklukkan diri sendiri.

        1. Sabar Itu Bukan Diam Karena Tak Berdaya
        Banyak orang salah paham soal sabar.
        Dikiranya sabar itu identik dengan:

        – Mengalah terus
        – Dipijak tapi diam
        – Disakiti tapi tersenyum
        – Diperlakukan tidak adil tapi pura-pura kuat

        Padahal, sabar tingkat dewa bukan tentang tidak mampu melawan,
        melainkan memilih untuk tidak bereaksi secara sembrono.

        Orang sabar tingkat dewa punya kemampuan,
        tapi ia juga punya kendali.

        Ia tahu kapan harus bicara.
        Ia tahu kapan harus diam.
        Ia tahu kapan harus pergi tanpa ribut.

        Dan percaya atau tidak,
        diam yang penuh kesadaran sering kali jauh lebih berisik
        daripada ribuan kata yang diucapkan karena emosi.

        2. Sabar Tingkat Dewa Dimulai dari Pertarungan dengan Diri Sendiri
        Musuh terbesar manusia bukan orang lain.
        Musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri:

        – Ego yang ingin selalu benar
        – Emosi yang ingin segera diluapkan
        – Luka lama yang ingin dibela
        – Harga diri yang mudah tersulut

        Sabar tingkat dewa tidak muncul tiba-tiba.
        Ia lahir dari ribuan momen kecil saat seseorang berkata pada dirinya sendiri:

        “Aku bisa marah…
        tapi aku memilih untuk tenang.”
        Setiap kali kita menahan diri dari reaksi impulsif,
        kita sedang melatih otot kesabaran.

        Dan latihan itu menyakitkan.
        Karena melawan orang lain itu mudah,
        tapi melawan diri sendiri butuh keberanian luar biasa.

        3. Orang Sabar Tingkat Dewa Tidak Selalu Tersenyum
        Ini fakta yang jarang dibahas:
        orang sabar tingkat dewa tidak selalu terlihat tenang dari luar.

        Ia bisa merasa kecewa.
        Ia bisa menangis sendirian.
        Ia bisa lelah secara mental.

        Tapi bedanya satu:
        ia tidak menjadikan emosinya sebagai senjata.

        Ia memproses rasa sakitnya tanpa melukai orang lain.
        Ia mengelola amarahnya tanpa meledakkan keadaan.

        Sabar bukan berarti tidak merasa apa-apa.
        Sabar berarti merasa semuanya, tapi tidak dikuasai olehnya.

        4. Sabar Saat Tidak Dimengerti Itu Level Tertinggi
        Sabar paling berat bukan saat kita diserang.
        Bukan saat kita dihina.
        Bukan saat kita dirugikan.

        Tapi saat niat baik kita disalahpahami.
        Saat usaha kita tidak dihargai.
        Saat cerita kita tidak dipercaya.

        Di titik ini, ego ingin berteriak:
        “Aku harus jelasin semuanya!”

        Namun sabar tingkat dewa berbisik pelan:
        “Tidak semua orang perlu mengerti.
        Tidak semua penjelasan perlu diberikan.”

        Orang yang sudah sampai level ini paham satu hal penting:
        validasi dari manusia tidak pernah cukup.

        5. Sabar Tidak Sama dengan Membiarkan Segalanya
        Ini penting untuk diluruskan.
        Sabar tingkat dewa bukan berarti pasrah tanpa batas.

        Ia tetap punya prinsip.
        Ia tetap punya nilai.
        Ia tetap tahu mana yang boleh dan tidak.

        Bedanya, ia menegakkan batas tanpa drama.
        Tanpa teriak.
        Tanpa menjatuhkan martabat.

        Ia bisa berkata tegas tanpa meninggikan suara.
        Ia bisa pergi tanpa mencaci maki.
        Ia bisa berhenti memberi tanpa perlu menjelaskan panjang lebar.

        Dan justru di situlah kekuatannya.

        6. Sabar Itu Mahal Karena Tidak Semua Orang Mampu
        Tidak semua orang sanggup sabar tingkat dewa.
        Karena sabar seperti ini menuntut kedewasaan emosional.

        Ia menuntut kita untuk:
        – Tidak reaktif
        – Tidak defensif
        – Tidak haus pembenaran
        – Tidak bergantung pada pengakuan

        Makanya, orang sabar sering disalahartikan sebagai lemah.
        Padahal sebenarnya,
        mereka hanya sudah capek bertarung di level yang tidak penting.

        Mereka memilih menyimpan energi
        untuk hal-hal yang benar-benar bermakna.

        7. Sabar Adalah Bentuk Cinta Paling Dewasa
        Sabar dalam hubungan—entah itu keluarga, pasangan, atau pekerjaan—
        adalah tanda cinta yang matang.

        Bukan cinta yang posesif.
        Bukan cinta yang meledak-ledak.
        Tapi cinta yang memberi ruang.

        Orang sabar tidak terburu-buru menuntut.
        Tidak cepat menghakimi.
        Tidak langsung pergi hanya karena emosi sesaat.

        Namun ingat,
        sabar bukan berarti bertahan selamanya di tempat yang menyakitkan.

        Kadang, bentuk sabar paling tinggi adalah
        berani melepaskan.

        8. Sabar Tingkat Dewa Dibentuk oleh Luka yang Dalam
        Hampir semua orang yang sabarnya “tidak wajar”
        pernah melalui fase hidup yang berat.

        Mereka pernah:
        – Dikhianati
        – Diremehkan
        – Ditinggalkan
        – Dipatahkan harapannya

        Tapi alih-alih menjadi pahit,
        mereka memilih menjadi bijaksana.

        Luka mengajarkan mereka satu hal:
        tidak semua hal layak diperjuangkan dengan emosi.

        Dan sejak itu,
        mereka berhenti bereaksi terhadap hal-hal kecil
        yang dulu mungkin membuat mereka hancur.

        9. Sabar Itu Pilihan, Bukan Bakat
        Tidak ada manusia yang lahir langsung sabar.
        Sabar adalah keputusan yang diulang setiap hari.

        Keputusan untuk:
        – Menarik napas sebelum menjawab
        – Merenung sebelum bereaksi
        – Berpikir sebelum bertindak

        Kadang gagal.
        Kadang terpancing.
        Kadang menyesal.

        Tapi orang sabar tingkat dewa tidak berhenti belajar.
        Ia refleksi.
        Ia memperbaiki diri.
        Ia bertumbuh.

        10. Pada Akhirnya, Sabar Membebaskan
        Yang paling indah dari sabar tingkat dewa adalah:
        ia membebaskan jiwa.

        Bebas dari dendam.
        Bebas dari kebutuhan membalas.
        Bebas dari keinginan membuktikan diri pada semua orang.

        Ketika seseorang sudah sampai tahap ini,
        hidupnya terasa lebih ringan.

        Bukan karena masalahnya sedikit,
        tapi karena hatinya tidak lagi ribut.

        Penutup

        Sabar tingkat dewa bukan tentang menjadi manusia sempurna.
        Tapi tentang menjadi manusia yang sadar.

        Sadar bahwa:
        – Tidak semua hal perlu ditanggapi
        – Tidak semua orang perlu dilayani emosinya
        – Tidak semua pertempuran perlu dimenangkan

        Kadang, kemenangan terbesar adalah
        tetap tenang di dunia yang penuh kegaduhan.

        Dan jika hari ini kamu sedang berusaha bersabar,
        percayalah…
        kamu tidak lemah.

        Kamu sedang naik level.

      • KASPAR PURBA
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 9 replies
        View Icon 6  views

          mantap insight nya, intinya harus jadi orang yang baik

          • Albert Yosua Matatula
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Image 9 replies
            View Icon 6  views

              Halo Kak Kaspar, terima kasih atas insight yang sudah dibagikan. Menurut saya, pernyataan Kak Kaspar sangat sederhana tetapi punya makna yang dalam, karena menjadi orang baik memang merupakan fondasi dari banyak hal dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.

            • Albert Yosua Matatula
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Image 9 replies
              View Icon 6  views

                Saya setuju bahwa menjadi orang baik bukan hanya soal sikap di depan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap saat tidak ada yang melihat. Nilai ini sering kali terlihat sepele, namun justru sulit untuk konsisten dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

              • Albert Yosua Matatula
                Participant
                GamiPress Thumbnail
                Image 9 replies
                View Icon 6  views

                  Selain itu, menjadi orang baik juga berkaitan erat dengan empati dan kepedulian terhadap sekitar. Dengan memiliki empati, kita bisa lebih memahami sudut pandang orang lain dan tidak mudah menghakimi, sehingga hubungan sosial bisa terjalin dengan lebih sehat.

                • Albert Yosua Matatula
                  Participant
                  GamiPress Thumbnail
                  Image 9 replies
                  View Icon 6  views

                    Namun menurut saya, tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi orang baik di situasi yang tidak selalu mendukung, misalnya saat menghadapi orang yang bersikap negatif atau tidak adil. Di kondisi seperti itu, menjaga sikap baik tentu membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri.

                  • Albert Yosua Matatula
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Image 9 replies
                    View Icon 6  views

                      Saya juga melihat bahwa menjadi orang baik tidak berarti selalu mengalah atau menuruti semua orang. Ada kalanya kita tetap harus tegas, tetapi dengan cara yang sopan dan beretika agar nilai kebaikan tetap terjaga.

                    • Albert Yosua Matatula
                      Participant
                      GamiPress Thumbnail
                      Image 9 replies
                      View Icon 6  views

                        Menurut Kak Kaspar, apa langkah paling sederhana yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk mulai membiasakan diri menjadi orang baik dalam lingkungan kampus atau organisasi?

                      • Albert Yosua Matatula
                        Participant
                        GamiPress Thumbnail
                        Image 9 replies
                        View Icon 6  views

                          Selain itu, bagaimana pendapat Kak Kaspar tentang batasan antara menjadi orang baik dan menjaga prinsip diri sendiri agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain?

                        • Albert Yosua Matatula
                          Participant
                          GamiPress Thumbnail
                          Image 9 replies
                          View Icon 6  views

                            Terakhir, menurut Kak Kaspar, apakah menjadi orang baik masih relevan dan bisa memberikan dampak positif di era sekarang yang kompetitif dan penuh tekanan? Terima kasih, Kak, atas insight dan kesempatannya untuk berdiskusi.

                      Viewing 1 reply thread
                      • You must be logged in to reply to this topic.
                      Image

                      Bergabung & berbagi bersama kami

                      Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!