- This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 1 hour, 55 minutes ago by
Amilia Desi Marthasari.
“Pintar Tapi Meremehkan: Ketika Kecerdasan Kehilangan Kebijaksanaan”
February 18, 2026 at 3:19 pm-
-
Up::0
Ada satu tipe orang yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari: cerdas, cepat memahami sesuatu, analitis, bahkan berprestasi. Namun, di balik kecemerlangannya, ada satu kebiasaan yang merusak segalanya—ia suka meremehkan orang lain.
Ironisnya, orang seperti ini sering merasa dirinya paling rasional, paling objektif, dan paling tahu. Padahal, tanpa ia sadari, sikap meremehkan itu justru menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Karena kecerdasan tanpa kebijaksanaan hanyalah kesombongan yang dibungkus logika.
Kita perlu memahami bahwa pintar dan bijak adalah dua hal yang berbeda. Pintar berhubungan dengan kemampuan kognitif—IQ, logika, daya analisis. Sementara bijak berkaitan dengan kematangan emosi, empati, dan kemampuan melihat nilai dalam diri orang lain. Konsep tentang kecerdasan intelektual pernah dipopulerkan oleh Alfred Binet melalui pengembangan tes IQ. Namun, jauh setelah itu, muncul gagasan bahwa kecerdasan tidak hanya satu dimensi.
Daniel Goleman memperkenalkan konsep Emotional Intelligence (EQ), yang menekankan pentingnya kemampuan memahami dan mengelola emosi—baik emosi diri sendiri maupun orang lain. Di sinilah letak perbedaannya. Seseorang bisa memiliki IQ tinggi, tetapi jika EQ-nya rendah, ia mungkin kesulitan membangun hubungan sehat dan cenderung meremehkan orang lain.
Orang pintar yang suka meremehkan biasanya memiliki pola pikir hierarkis: ia melihat dunia seperti tangga. Siapa yang lebih lambat dianggap kurang mampu. Siapa yang tidak sepaham dianggap bodoh. Siapa yang gagal dianggap tidak kompeten. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki kecepatan dan konteks yang berbeda.
Padahal, kecerdasan bukanlah perlombaan tunggal. Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences menjelaskan bahwa manusia memiliki berbagai jenis kecerdasan: linguistik, logis-matematis, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, musikal, dan lainnya. Artinya, seseorang yang tidak unggul dalam satu bidang belum tentu tidak cerdas—ia mungkin hanya cerdas dalam cara yang berbeda.
Namun, orang yang gemar meremehkan sering kali terjebak dalam bias superioritas. Ia mengukur semua orang dengan standar dirinya sendiri. Jika ia cepat memahami angka, ia menganggap orang yang lambat berhitung tidak kompeten. Jika ia mahir berbicara, ia menganggap orang pendiam tidak punya wawasan. Ia gagal melihat bahwa dunia tidak hanya membutuhkan satu jenis kecerdasan.
Ada sisi psikologis yang menarik di sini. Dalam psikologi sosial, dikenal efek David Dunning dan Justin Kruger yang disebut Dunning-Kruger Effect. Bias ini menjelaskan bahwa orang yang kurang kompeten sering kali melebih-lebihkan kemampuannya. Namun, ada sisi lain yang jarang dibahas: orang yang kompeten bisa merasa frustrasi ketika orang lain tidak secepat dirinya, lalu berubah menjadi meremehkan.
Frustrasi itu, jika tidak dikelola dengan empati, berubah menjadi sinisme. Dan sinisme yang terus dipelihara berubah menjadi kebiasaan merendahkan.
Masalahnya, sikap meremehkan ini bukan hanya menyakiti orang lain—ia juga merugikan diri sendiri. Dalam lingkungan kerja, orang yang cerdas tetapi meremehkan rekan tim akan kesulitan membangun kolaborasi. Ia mungkin hebat secara individu, tetapi gagal dalam kerja tim. Padahal, dunia modern menuntut kolaborasi lintas kemampuan.
Bayangkan sebuah tim di perusahaan. Ada satu orang yang sangat pintar, selalu benar dalam analisis, tetapi sering berkata, “Ah, itu saja tidak tahu?” atau “Seharusnya itu mudah.” Lama-kelamaan, anggota tim lain menjadi enggan bertanya. Mereka takut terlihat bodoh. Akibatnya, komunikasi macet. Ide-ide baru tidak muncul. Lingkungan kerja menjadi kaku.
Kecerdasan yang seharusnya menjadi aset berubah menjadi sumber ketakutan.
Lebih jauh lagi, orang yang suka meremehkan sering kali kehilangan kesempatan belajar. Mengapa? Karena ia merasa sudah tahu. Ketika orang lain berbicara, ia tidak benar-benar mendengarkan. Ia sibuk menilai. Ia tidak membuka ruang untuk kemungkinan bahwa orang lain mungkin memiliki perspektif yang belum pernah ia pikirkan.
Padahal, dalam banyak kasus, inovasi lahir dari pertemuan berbagai sudut pandang.
Sikap meremehkan juga sering berakar pada kebutuhan validasi. Orang tersebut mungkin tanpa sadar menggantungkan harga dirinya pada rasa “lebih unggul”. Dengan meremehkan orang lain, ia merasa lebih tinggi. Namun, rasa superioritas yang dibangun dengan cara menjatuhkan orang lain adalah fondasi yang rapuh.
Begitu ia bertemu seseorang yang lebih pintar darinya, ia bisa merasa terancam. Dan di situlah paradoksnya: orang yang terlihat percaya diri ternyata menyimpan ketidakamanan.
Kita perlu jujur mengakui bahwa menjadi pintar itu anugerah. Namun, anugerah itu datang dengan tanggung jawab. Semakin kita memahami sesuatu, semakin besar kewajiban kita untuk membimbing, bukan merendahkan. Untuk menjelaskan, bukan menghakimi.
Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Itu salah,” dengan mengatakan, “Coba kita lihat dari sudut ini.” Perbedaan itu terletak pada niat dan cara. Yang satu menutup pintu, yang lain membuka jendela.
Orang yang benar-benar bijak tahu bahwa setiap orang pernah menjadi pemula. Tidak ada ahli yang langsung mahir sejak lahir. Semua orang pernah tidak tahu. Semua orang pernah bertanya hal yang mungkin terdengar sederhana.
Jika kita mengingat fase-fase itu, kita akan lebih sabar.
Selain itu, meremehkan orang lain menciptakan jarak emosional. Hubungan yang sehat dibangun atas rasa saling menghargai. Ketika seseorang merasa diremehkan, ia tidak hanya tersinggung—ia juga kehilangan rasa aman. Dan tanpa rasa aman, hubungan tidak akan berkembang.
Dalam konteks keluarga, misalnya, orang tua yang cerdas tetapi sering meremehkan anaknya bisa mematikan rasa percaya diri anak. Kalimat seperti “Masa begitu saja tidak bisa?” terdengar kecil, tetapi dampaknya besar. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Di lingkungan pertemanan, orang yang suka meremehkan perlahan akan dijauhi. Mungkin tidak langsung. Namun, orang-orang akan memilih untuk berbagi cerita dengan mereka yang membuatnya merasa dihargai, bukan dihakimi.
Sikap meremehkan juga menunjukkan kurangnya empati. Empati bukan berarti selalu setuju, tetapi mampu memahami posisi orang lain. Orang yang empatik tahu bahwa di balik setiap kesalahan ada proses belajar. Di balik setiap ketidaktahuan ada peluang berkembang.
Kita juga perlu melihat sisi reflektifnya: pernahkah kita tanpa sadar meremehkan orang lain? Mungkin lewat nada bicara, ekspresi wajah, atau komentar singkat. Kadang kita merasa hanya “jujur”, padahal cara penyampaiannya melukai.
Kesadaran adalah langkah pertama untuk berubah.
Bagaimana cara mengubah kecenderungan meremehkan?
Pertama, latih kerendahan hati intelektual. Sadari bahwa apa yang kita ketahui hanyalah sebagian kecil dari luasnya pengetahuan. Dunia ini terlalu kompleks untuk dikuasai sepenuhnya oleh satu orang.
Kedua, ubah standar dari “siapa yang paling pintar” menjadi “apa yang bisa kita pelajari bersama”. Fokus pada solusi, bukan pembuktian diri.
Ketiga, praktikkan mendengarkan aktif. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk menanggapi. Kadang, orang tidak membutuhkan penilaian—mereka hanya butuh ruang untuk berpikir dengan suara keras.
Keempat, ingat bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kecepatannya memahami sesuatu. Ada orang yang lambat berbicara tetapi dalam berpikir. Ada yang tidak menonjol di rapat, tetapi sangat teliti dalam eksekusi.
Orang yang benar-benar kuat tidak perlu meremehkan untuk merasa tinggi. Ia tahu bahwa mengangkat orang lain tidak akan membuat dirinya turun.
Pada akhirnya, kecerdasan sejati bukan hanya tentang seberapa cepat kita menemukan jawaban, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang belum menemukan jawabannya. Apakah kita mengejek? Mengeluh? Atau membantu?
Pintar adalah kemampuan. Bijak adalah pilihan.
Dan dalam hidup, pilihan itulah yang menentukan kualitas hubungan, karier, bahkan kebahagiaan kita.
Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan orang pintar yang rendah hati. Orang yang mampu berkata, “Saya tahu sedikit tentang ini, mari kita belajar bersama.” Orang yang tidak menjadikan kecerdasannya sebagai senjata, melainkan sebagai cahaya.
Jika Anda adalah orang yang cerdas, jadilah versi terbaiknya. Gunakan kemampuan Anda untuk membangun, bukan meruntuhkan. Jadikan kecepatan berpikir Anda sebagai jembatan, bukan tembok.
Dan jika Anda pernah diremehkan oleh orang yang merasa lebih pintar, ingatlah satu hal: nilai Anda tidak ditentukan oleh penilaian orang lain. Setiap orang punya jalannya sendiri. Setiap orang punya waktunya sendiri.
Kita semua sedang belajar.
Dan pada akhirnya, orang yang paling dihormati bukanlah yang paling sering membuktikan dirinya benar, melainkan yang paling sering membuat orang lain merasa berharga.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
5 Alasan Kunci Kenapa 1 Juta Lulusan Sarjana Jadi Pengangguran dan SolusinyaSetiap tahun, Indonesia meluluskan lebih dari satu juta sarjana dari berbagai perguruan tinggi. Namun, kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak langsung memperoleh…10 Feb 2026 • GeneralAllTerkait:tapi
-
13 Cara untuk Menjadi Konsultan Manajemen yang SuksesJika kamu ingin menjadi seorang konsultan manajemen yang sukses, ada beberapa langkah penting yang perlu kamu ambil. Di bawah ini, kamu akan…24 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:ketika
-
13 Fondasi Finansial ModernMenghasilkan uang itu relatif mudah. Mempertahankannya? Justru itu bagian tersulit. Kamu bisa: Dapat kenaikan gaji Menambah klien baru Meningkatkan penghasilan Membangun side…8 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:tapi
-
10 PENYAKIT MENTAL MANUSIASiapa kah yang punya salah satu penyakit mental ini, hayoo ngakuu.. berikut ini penjelasannya, check it out.. 1. MENYALAHKAN ORANG LAIN Itu…22 Dec 2025 • GeneralAllTerkait:tapi
-
Refleksi 12 Bulan: Apa Saja yang Ternyata Sudah Kita Lewati Tanpa Kita Sadari?Kadang yang paling menenangkan dari akhir tahun bukanlah pesta, bukan pula resolusi baru. Tapi momen ketika kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang,…4 Dec 2025 • GeneralAllTerkait:tapi meremehkan ketika kehilangan
-
10 Kebohongan yg Sering Kita Percaya dan Fakta yg Bisa Bikin Hidupmu Lebih BaikKita sering dengar banyak omongan yang kedengarannya benar, tapi diam-diam omongan itu malah bikin kita stuck dan nggak maju-maju. Padahal, masalahnya bukan…29 Sep 2025 • GeneralAllTerkait:pintar tapi ketika kebijaksanaan
-
10 Cara Praktis Menghentikan Overthinking Sebelum Bikin Capek MentalLelah mental itu bukan karena kerja terlalu keras. Tapi karena terlalu banyak mikir. Pikiran kita terus jalan 24 jam sehari: Takut gagal,…27 Aug 2025 • GeneralAllTerkait:tapi
-
Sukses Tanpa Stres: 12 Cara Merawat Diri Tanpa Mengorbankan KarierBanyak orang berpikir bahwa untuk meraih kesuksesan, kita harus mengorbankan waktu istirahat, keluarga, dan bahkan kesehatan. Tapi sebenarnya, kesejahteraan dan kesuksesan bisa…12 Aug 2025 • GeneralAllTerkait:tapi ketika kehilangan
-
12 Kebiasaan Kecil yang Bisa Mengubah HidupmuSukses datang dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Motivasi itu naik-turun, tapi kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari bisa membawa perubahan…3 Aug 2025 • GeneralAllTerkait:tapi
-
“Gak Semua Bos Itu Leader! Ini 1 Sifat yang Bikin Kamu Layak Jadi Panutan”Dalam dunia bisnis yang terus berubah cepat, satu hal tetap konstan: manusia hanya akan bergerak sepenuh hati jika mereka merasa dipimpin, bukan…14 Jul 2025 • GeneralAllTerkait:pintar tapi ketika
-
10 Tanda Kamu Memimpin dengan EmpatiTimmu tidak akan bersuara jika mereka tidak merasa aman. Empati adalah titik awal dari kepercayaan. Dan ini tanda-tanda bahwa kamu memimpin dengan…14 Jul 2025 • GeneralAllTerkait:pintar tapi
-
12 Kebiasaan Lama yang Perlu Kamu Tinggalkan di Era SekarangBanyak dari kita masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang dulu dianggap efektif, tapi kini justru bisa menghambat kemajuan, kesehatan mental, dan produktivitas. Berikut adalah…18 Jun 2025 • GeneralAllTerkait:pintar tapi