Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 1 reply, 2 voices, and was last updated 1 week, 3 days ago by KASPAR PURBA.

Tentang matang, sadar, dan belajar berdamai dengan hidup

December 29, 2025 at 7:58 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 1 replies
      View Icon 8  views
        Up
        0
        ::

        Ada satu fase usia yang jarang dibicarakan secara jujur.
        Bukan usia muda yang penuh ambisi.
        Bukan pula usia senja yang identik dengan kebijaksanaan.

        Fase itu sering kita sebut, setengah bercanda setengah pasrah:
        usia medium well.

        Istilah yang diambil dari tingkat kematangan daging.
        Tidak mentah.
        Tidak terlalu matang.
        Tapi cukup.

        Dan anehnya, istilah ini terasa sangat relevan dengan hidup.

        1. Ketika Hidup Tak Lagi Mentah, Tapi Belum Sepenuhnya Matang
        Di usia medium well, kita sudah pernah jatuh.
        Pernah kecewa.
        Pernah salah memilih.
        Pernah terlalu berharap, lalu belajar menurunkannya.

        Kita tak lagi polos.
        Tapi juga belum sepenuhnya bijak.

        Kita tahu dunia tidak sesederhana yang kita bayangkan di usia 20-an.
        Namun, kita juga sadar bahwa sinisme berlebihan hanya akan membuat kita pahit.

        Usia ini bukan tentang tahu segalanya.
        Tapi tentang tahu mana yang perlu diperjuangkan, dan mana yang harus dilepaskan.

        2. Ambisi Masih Ada, Tapi Tak Lagi Membabi Buta
        Di usia medium well, mimpi belum mati.
        Namun, cara kita mengejarnya berubah.

        Dulu:
        – kejar apa pun, asal cepat.
        – takut tertinggal.
        – membandingkan diri dengan semua orang.

        Sekarang:
        – lebih selektif.
        – lebih sadar kapasitas.
        – lebih peduli dampak jangka panjang.

        Bukan karena kita malas.
        Tapi karena kita sudah belajar:
        lelah tanpa arah itu menyakitkan.

        Ambisi masih hidup.
        Namun kini berdampingan dengan kesehatan mental, keluarga, dan makna.

        3. Kita Mulai Menghargai Proses, Bukan Sekadar Hasil
        Usia medium well mengajarkan satu hal penting:
        hasil itu penting, tapi cara mencapainya jauh lebih menentukan.

        Kita mulai bertanya:
        “Apakah aku bahagia menjalani ini?”
        “Apakah aku masih menjadi diriku sendiri?”
        “Atau aku hanya bertahan demi validasi?”

        Dulu kita bangga jika sibuk.
        Sekarang kita bangga jika bisa pulang dengan pikiran utuh.

        Dulu kita mengejar pengakuan.
        Sekarang kita lebih menghargai ketenangan.

        4. Tidak Semua Orang Harus Disenangkan
        Salah satu kematangan paling nyata di usia medium well adalah ini:
        kita berhenti berusaha menyenangkan semua orang.

        Bukan karena egois.
        Tapi karena kita sadar, hidup terlalu singkat untuk terus hidup di bawah ekspektasi orang lain.

        Kita belajar berkata “tidak”.
        Belajar memberi batas.
        Belajar bahwa kehilangan beberapa orang bukan selalu kegagalan  kadang itu penyelamatan diri.

        Hubungan yang bertahan di fase ini biasanya bukan yang paling ramai,
        tapi yang paling jujur.

        5. Luka Lama Masih Ada, Tapi Tak Lagi Menguasai
        Usia medium well bukan berarti bebas luka.
        Luka itu masih ada.

        Namun, perbedaannya:
        kita tidak lagi mendefinisikan diri dari luka tersebut.

        Kita tidak menyangkal masa lalu.
        Tapi juga tidak tinggal di sana.

        Kita belajar berdamai, bukan melupakan.
        Mengerti, bukan membenarkan.
        Menerima, tanpa harus menyukai.

        Ini bukan tanda lemah.
        Ini tanda dewasa.

        6. Waktu Menjadi Hal yang Sangat Berharga
        Di usia medium well, waktu terasa berbeda.
        Bukan karena lebih sedikit.
        Tapi karena lebih disadari.

        Kita mulai menghitung energi, bukan hanya jam.
        Mulai memilih aktivitas yang memberi makna, bukan sekadar mengisi hari.

        Kita sadar:
        waktu yang dihabiskan dengan orang yang salah
        lebih mahal daripada uang yang hilang.

        Dan waktu bersama diri sendiri
        adalah investasi yang sering diremehkan di usia muda.

        7. Kita Tidak Lagi Berlomba, Tapi Berjalan dengan Irama Sendiri
        Usia medium well mengajarkan bahwa hidup bukan lomba lari.
        Lebih mirip maraton dengan ritme masing-masing.

        Ada yang menikah duluan.
        Ada yang sukses lebih cepat.
        Ada yang menemukan panggilan hidupnya belakangan.

        Dan itu tidak apa-apa.

        Kita berhenti bertanya,
        “Aku ketinggalan nggak?”
        Dan mulai bertanya,
        “Aku masih jujur sama diriku sendiri nggak?”

        8. Makna Sukses Berubah Total
        Sukses di usia medium well jarang tentang pamer.
        Lebih sering tentang ketenangan.

        Bisa tidur nyenyak.
        Bisa makan tanpa rasa bersalah.
        Bisa bekerja tanpa kehilangan diri sendiri.

        Sukses menjadi lebih sunyi.
        Lebih personal.
        Dan lebih membumi.

        9. Kita Mulai Menerima Ketidaksempurnaan Diri
        Usia medium well adalah fase ketika kita berhenti memaksa diri menjadi versi ideal.

        Kita menerima:
        –  ada hal yang tak bisa kita ubah
        –  ada keterbatasan yang harus dihormati
        –  ada mimpi yang harus disesuaikan, bukan ditinggalkan

        Dan di sanalah kedewasaan tumbuh.

        Bukan dari pencapaian.
        Tapi dari penerimaan.

        10. Hidup Tidak Lagi Harus Spektakuler untuk Bermakna
        Usia medium well mengajarkan bahwa hidup yang baik
        tidak harus viral, besar, atau mengesankan semua orang.

        Kadang hidup yang bermakna adalah:
        – hari biasa tanpa drama
        – pekerjaan yang cukup
        – hubungan yang hangat
        – hati yang tenang

        Dan itu sudah lebih dari cukup.

        Medium Well Bukan Akhir, Tapi Titik Sadar
        Usia medium well bukan tanda menurun.
        Ini tanda memahami.

        Kita tidak lagi hidup untuk membuktikan.
        Tapi untuk menjalani.

        Tidak lagi mengejar semua hal.
        Tapi menjaga yang penting.

        Dan mungkin, di usia ini, kita akhirnya mengerti:
        hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai,
        tapi seberapa utuh kita tetap menjadi diri sendiri di sepanjang jalan.

      • KASPAR PURBA
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 1 replies
        View Icon 8  views

          sangat insight sekali, buat pencerahan

      Viewing 1 reply thread
      • You must be logged in to reply to this topic.

      Peringkat Top Contributor

      1. #1
        GUNTUR OKTAVIAN
        Points: 171
      2. #2
        Agus Djulijanto
        Points: 62
      3. #3
        Warsuwan
        Points: 44
      4. #4
        AGUS PRASETYO BUDI SAPUTRO
        Points: 37
      5. #5
        Debbie Christie Ginting / Finance Team Lead
        Points: 34
      Image

      Bergabung & berbagi bersama kami

      Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!