Apakah anda mencari sesuatu?

Jika kamu di suruh HIRE karyawan kamu akan memilih yang bagaimana???

April 7, 2026 at 5:20 pm
Unpinned
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant

      Rockstar

      5 Requirements

      • Login ke website sebanyak 30 kali
      • Balas Thread sebanyak 50 kali
      • Buat Thread baru sebanyak 30 kali
      • Bagikan thread ke media sosial sebanyak 15 kali
      • Bagikan pengalaman kamu menggunakan produk mekari ke media sosial sebanyak 5 kali
      GamiPress Thumbnail
      Image 0 replies
      View Icon 2 views
        Up
        0
        ::

        Pernah nggak kamu membayangkan satu situasi ini:

        Kalau suatu hari kamu disuruh hire karyawan,
        dan keputusan itu sepenuhnya ada di tanganmu—
        tanpa HR, tanpa atasan, tanpa intervensi siapa pun—

        kamu akan pilih siapa?

        Yang paling pintar?
        Yang paling berpengalaman?
        Atau… yang paling “enak diajak kerja”?

        Pertanyaan ini kelihatannya sederhana.
        Tapi sebenarnya dalam banget.

        Karena di dunia kerja, kita sering diajarkan satu hal:
        “Cari yang paling kompeten.”

        Tapi kenyataannya?
        Kompeten saja sering tidak cukup.

        Mari kita bayangkan ada 3 kandidat:

        Kandidat A:
        Pintar banget. CV-nya penuh prestasi.
        Tapi ego tinggi, susah dikasih feedback.

        Kandidat B:
        Biasa saja secara skill.
        Tapi cepat belajar, rendah hati, dan mau berkembang.

        Kandidat C:
        Skill oke, pengalaman cukup,
        dan attitude juga stabil.

        Kalau kamu harus pilih satu… kamu pilih siapa?

        Di sinilah dilema itu muncul.

        Karena memilih karyawan itu bukan sekadar memilih “siapa yang paling bisa kerja”.
        Tapi juga:
        siapa yang paling bisa diajak kerja.

        Banyak orang salah kaprah.

        Mereka pikir:
        skill adalah segalanya.

        Padahal, dalam jangka panjang,
        attitude seringkali jauh lebih menentukan.

        Skill bisa diajarkan.
        Pengalaman bisa dibangun.

        Tapi attitude?

        Itu jauh lebih sulit diubah.

        Coba kamu ingat-ingat.

        Di kantor, siapa yang paling bikin lelah?

        Bukan yang kurang pintar.
        Biasanya justru yang:

        • susah dikasih masukan
        • merasa paling benar
        • tidak mau belajar
        • atau… toxic secara perlahan

        Dan anehnya,
        orang-orang seperti ini seringkali “terlihat hebat” di awal.

        Karena mereka tahu cara tampil.
        Tapi tidak selalu tahu cara bertumbuh.

        Sekarang kita balik pertanyaannya:

        Kalau kamu hire seseorang,
        kamu sebenarnya lagi “beli masa depan” atau “beli masa lalu”?

        Kalau kamu fokus ke CV,
        kamu sedang membeli masa lalu.

        Tapi kalau kamu fokus ke potensi dan sikap,
        kamu sedang berinvestasi di masa depan.

        Masalahnya, banyak orang lebih nyaman menilai masa lalu.

        Karena lebih mudah.

        Ada angka.
        Ada jabatan.
        Ada nama perusahaan.

        Terlihat objektif.

        Padahal belum tentu relevan dengan kebutuhanmu sekarang.

        Mari jujur saja.

        Berapa banyak orang yang “terlihat hebat di CV”,
        tapi ternyata tidak cocok ketika benar-benar bekerja?

        Dan sebaliknya,
        berapa banyak orang yang “biasa saja di atas kertas”,
        tapi justru jadi tulang punggung tim?

        Kalau kamu jadi hiring manager,
        kamu akan sadar satu hal penting:

        Kamu tidak sedang mencari orang sempurna.
        Kamu sedang mencari orang yang “tepat”.

        Dan “tepat” itu relatif.

        Tergantung:

        • budaya tim
        • cara kerja
        • gaya komunikasi
        • dan fase bisnis

        Ada fase di mana kamu butuh orang yang “rockstar”.
        Yang bisa langsung jalan tanpa banyak arahan.

        Tapi ada juga fase di mana kamu justru butuh:
        orang yang mau dibentuk, mau belajar, dan loyal.

        Masalahnya, banyak orang salah memilih di fase yang salah.

        Contoh sederhana:

        Kamu punya tim kecil, baru berkembang.
        Butuh orang yang fleksibel, mau belajar banyak hal.

        Tapi kamu hire orang yang terbiasa di sistem besar,
        yang semuanya sudah terstruktur.

        Hasilnya?

        Bukan karena dia tidak kompeten.
        Tapi karena dia tidak cocok.

        Itulah kenapa,
        hire karyawan itu bukan tentang siapa yang terbaik.

        Tapi siapa yang paling “fit”.

        Sekarang balik lagi ke pertanyaan awal:

        Kalau kamu disuruh hire karyawan,
        kamu akan pilih siapa?

        Coba jawab jujur.

        Apakah kamu masih akan memilih yang paling pintar?

        Atau mulai mempertimbangkan yang:

        • mau belajar
        • bisa kerja sama
        • punya attitude baik
        • dan tidak bikin tim jadi berat

        Ada satu prinsip sederhana yang sering dipakai banyak leader hebat:

        “Hire for attitude, train for skill.”

        Karena skill itu bisa naik.
        Tapi attitude yang buruk…
        seringkali hanya akan makin terlihat seiring waktu.

        Dan satu hal lagi yang jarang dibahas:

        Karyawan itu bukan cuma soal performa.
        Tapi juga soal energi.

        Ada orang yang:

        • datang → tim jadi semangat
        • bicara → diskusi jadi hidup
        • kerja → orang lain ikut terdorong

        Tapi ada juga yang sebaliknya:

        • datang → suasana jadi berat
        • kerja → penuh drama
        • komunikasi → bikin lelah

        Kalau kamu boleh pilih…
        kamu mau yang mana?

        Pada akhirnya,
        hire karyawan itu bukan cuma keputusan bisnis.

        Itu keputusan manusia.

        Karena yang kamu kelola bukan mesin.
        Tapi orang.

        Dengan emosi.
        Dengan ego.
        Dengan potensi.
        Dan dengan masalahnya masing-masing.

        Jadi, kalau suatu hari kamu benar-benar diberi kesempatan untuk memilih…

        Jangan cuma tanya:

        “Dia bisa kerja apa?”

        Tapi juga tanya:

        “Dia akan jadi siapa di tim ini?”

        Karena orang yang tepat,
        tidak hanya menyelesaikan pekerjaan.

        Tapi juga memperbaiki cara tim bekerja.

        Dan mungkin,
        itulah jawaban terbaik dari pertanyaan ini:

        Kalau kamu disuruh hire karyawan…

        Jangan cari yang paling hebat.
        Cari yang paling tepat.

        Karena yang hebat belum tentu bertahan.
        Tapi yang tepat…
        biasanya akan bertumbuh.

    Viewing 0 reply threads
    • You must be logged in to reply to this topic.
    Image

    Bergabung & berbagi bersama kami

    Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!