- This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 1 week, 3 days ago by
Joko Siyamto.
Terjebak dalam “FOMO Spending”
August 31, 2026 at 2:19 pm-
-
Up::0
Terjebak dalam “FOMO Spending”: Saat Keinginan Hari Ini Mengalahkan Masa Depan.
Di era media sosial saat ini, kita terus dibanjiri informasi tentang gaya hidup, barang terbaru, promo besar-besaran, hingga pencapaian orang lain.
Kita sering kali mendapati diri lebih mudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sedang tren “FOMO”, dibandingkan menyisihkan uang untuk tabungan atau investasi masa depan.
Tanpa disadari, semua itu dapat memicu Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut tertinggal dari tren atau merasa tidak “selevel” dengan orang lain.
Akibatnya, kita lebih mudah mengeluarkan uang untuk memenuhi keinginan sesaat daripada mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Mengapa kita lebih suka “Spending” daripada “Saving”?
Secara psikologis, belanja memberikan kepuasan instan (instant gratification). Saat kita membeli barang baru, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa senang sesaat.
Sebaliknya, menabung membutuhkan disiplin, kesabaran dan kemampuan untuk menunda kesenangan demi manfaat jangka panjang yang belum terlihat wujudnya.
Berikut adalah faktor utama yang sering membuat seseorang terjebak dalam pola konsumtif:
1) Validasi Sosial melalui Barang
Media sosial sering kali menciptakan standar hidup yang tidak realistis “terlihat sempurna”. Melihat orang lain memakai gawai terbaru, berlibur ke tempat mewah, atau mengikuti tren tertentu membuat kita merasa harus memiliki barang tersebut agar merasa “diterima” atau “diakui” oleh lingkungan sosial.
2. Efek Diderot (Perilaku Konsumtif Berlebihan)
Pernah membeli satu barang baru, lalu merasa perlu membeli barang lain agar serasi? Misalnya setelah membeli sepatu baru, muncul keinginan membeli tas, pakaian, atau aksesori yang cocok. Inilah yang dikenal sebagai Diderot Effect, yaitu satu pembelian yang memicu pengeluaran-pengeluaran berikutnya.
3. Pola Pikir “YOLO” (You Only Live Once)
Ungkapan “You Only Live Once (FOLO)” sering disalahartikan sebagai pembenaran untuk menghabiskan uang demi kesenangan sekarang tanpa memikirkan konsekuensi finansial di masa depan.
Hidup memang hanya sekali, tetapi kebutuhan di masa depan juga nyata.
*Kerugian Jangka Panjang dari Pola Pikir FOMO
Mengikuti keinginan hati tanpa kendali kebutuhan bukan hanya tentang uang yang habis, melainkan dampak yang lebih luas:
1) Gagal Membangun Dana DaruratKetika pengeluaran habis untuk hal non-esensial, kita tidak memiliki “bantalan” saat keadaan darurat terjadi.
2) Terjebak Utang Konsumtif
Penggunaan paylater atau kartu kredit untuk memenuhi gaya hidup FOMO sering kali menjadi jerat utang dengan bunga yang tinggi.
3) Kecemasan Finansial
Alih-alih merasa bahagia, perilaku konsumtif yang berlebihan justru sering berujung pada rasa stres saat menyadari saldo tabungan tidak kunjung bertumbuh.
*Tips Berhenti Berlari Mengejar Tren
Mengubah perilaku finansial tidak harus dilakukan secara drastis, namun memerlukan konsistensi. Berikut adalah langkah praktis yang bisa Anda coba:
1) Terapkan Aturan 24 Jam
Sebelum membeli barang yang bersifat keinginan (bukan kebutuhan), tunggu setidaknya 24 jam. Sering kali, dorongan untuk membeli akan hilang setelah emosi sesaat mereda.
2) Bedakan Keinginan dan Kebutuhan
Gunakan skala prioritas. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hidup saya akan berhenti atau sangat terganggu jika saya tidak memiliki barang ini?”
3) Fokus pada Tujuan, Bukan Tren
Tetapkan tujuan finansial yang spesifik, seperti dana liburan impian, dana pendidikan atau dana pensiun. Ketika Anda memiliki target yang jelas, godaan untuk membeli barang tren akan terasa kurang relevan.
4) Kurasi Media Sosial
Unfollow atau mute akun-akun yang sering memicu rasa cemas atau keinginan untuk membeli barang secara impulsif.
Kesimpulan
Kebebasan finansial tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang Anda habiskan untuk terlihat “berada”, melainkan dari seberapa bijak Anda mengelola uang yang Anda miliki.Mengendalikan FOMO bukan berarti Anda tidak boleh menikmati hidup, melainkan memastikan bahwa pengeluaran Anda selaras dengan nilai dan tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren yang akan memudar dalam waktu singkat.
Menurut teman-teman, apakah kita harus mengikuti tren FOMO atau lebih baik berinvestasi untuk masa depan? Silahkan diberikan tanggapan atau bisa tinggalkan komentar dibawah ya teman-teman☺️
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
21 Kesalahan Karier yang Sering TerjadiDalam dunia kerja, banyak hal yang kelihatannya “baik-baik saja”, tapi ternyata justru jadi penghambat karier. Berikut ini 21 kesalahan yang sering…13 May 2026 • Generalkarier-duniakerja-pengembangandiri-upgradeskill-kerjacerdas-produktivitasTerkait:terjebak
-
5 Alasan Kunci Kenapa 1 Juta Lulusan Sarjana Jadi Pengangguran dan SolusinyaSetiap tahun, Indonesia meluluskan lebih dari satu juta sarjana dari berbagai perguruan tinggi. Namun, kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak langsung memperoleh…3 May 2026 • GeneralAllTerkait:terjebak
-
10 PENYAKIT MENTAL MANUSIASiapa kah yang punya salah satu penyakit mental ini, hayoo ngakuu.. berikut ini penjelasannya, check it out.. 1. MENYALAHKAN ORANG LAIN Itu…4 Jun 2026 • GeneralAllTerkait:terjebak
-
Panggung Sandiwara KemanusiaanPanggung Sandiwara Kemanusiaan: "Menakar Arti Empati, Simpati dan Kepedulian di Dunia Maya versus Realita yang Sesungguhnya" Di era digital yang serba cepat…30 Aug 2026 • GeneralTerkait:terjebak fomo
-
Kecerdasan Politik: Keterampilan Bertahan Hidup di Dunia ProfesionalBanyak orang percaya bahwa bekerja dengan baik, memiliki kemampuan teknis yang tinggi, dan selalu memberikan hasil terbaik sudah cukup untuk membawa seseorang…10 Jul 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
Cara Menerapkan Parenting Positif di Tengah Kesibukan Orang TuaMenjadi orang tua di era modern bukanlah tugas yang sederhana. Di satu sisi, tuntutan pekerjaan semakin tinggi, mobilitas semakin cepat, dan berbagai…6 Jul 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
Cara Membangun Bisnis dari Nol Tanpa Modal BesarBanyak orang ingin punya bisnis, tapi berhenti bahkan sebelum mulai karena satu alasan yang terdengar sangat masuk akal: modal. “Nanti kalau sudah…4 Jun 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
Awal yang Manis, Jeratan yang Sunyimekanisme kontrol yang bekerja secara halus namun mematikan, mulai dari fase awal yang tampak penuh kasih hingga titik akhir di mana korban…11 May 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
“Self-Sabotage: Musuh Terbesar yang Sering Tidak Disadari”Banyak orang berpikir bahwa penghambat terbesar dalam hidup adalah keadaan, lingkungan, kurangnya kesempatan, atau orang lain yang tidak mendukung, padahal sering kali…12 May 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
“Fenomena People Pleaser: Baik atau Justru Menyakiti Diri Sendiri?”Menjadi orang baik selalu terdengar seperti hal yang benar, sesuatu yang patut dibanggakan dan dipertahankan, tetapi bagaimana jika “terlalu baik” justru menjadi…8 Jun 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
“Masalahmu Bukan Dunia yang Keras, Tapi Pikiranmu Sendiri”Kita sering merasa hidup ini berat karena dunia terlalu keras, terlalu tidak adil, terlalu penuh tekanan, seolah-olah semua hal di luar sana…13 May 2026 • GeneralTerkait:terjebak
-
Warren Buffet WayWarren Buffet sendiri kita tahu merupakan salah satu bilioner terkenal. Ia merupakan salah satu bilioner terkaya di dunia, dan semua kekayaannya dihasilkan…13 May 2026 • Generalinvestasi saham waren-buffetTerkait:terjebak