- This topic has 1 reply, 2 voices, and was last updated 1 month, 2 weeks ago by
Lia.
The Death of Samurai: Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo
December 30, 2025 at 3:03 pm-
-
Up::0
Hari-hari ini, langit di atas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih. Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati). Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.
Serbuan Samsung dan LG (pabrik yang berasal dari Korea Selatan) itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol. What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang?
Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.
Faktor 1 : Harmony Culture Error.
Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo. Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.
Faktor 2: Seniority Error.
Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan. Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia, di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman. Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.
Faktor 3: Old Nation Error.
Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. Implikasinya adalah mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu. Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama, nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.
Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.
Oleh karena itu, sebagai generasi muda bangsa RI, sudah seharusnya anak muda punya banyak inovasi agar bisa menyamai negara – negara maju.
-
Raksasa elektronik Jepang limbung bukan karena kurang pintar atau kurang modal, tapi terjebak oleh budaya yang terlalu mementingkan harmoni, senioritas, dan kenyamanan lama. Di era digital, kecepatan dan inovasi adalah oksigen—terlambat sedikit, pesaing sudah melesat.
Pelajaran penting untuk kita: budaya kerja harus adaptif, ide muda harus didengar, dan inovasi harus menjadi nafas sehari-hari. Kalau generasi muda Indonesia bisa belajar dari ini, kita juga punya peluang besar untuk bersaing dan berinovasi di panggung global.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Drama tentang Robohnya Kedigdayaan NokiaWaktu senja tampak tengah bersemayam diatas kompleks kantor pusat Nokia di kota Helsinki, Finlandia. Butiran salju tipis berjatuhan, menghampiri setiap sudut bangunan.…3 Feb 2026 • GeneralAllTerkait:robohnya sharp
-
Pelajar Strategi Inovasi dari APPLE– Sang Inovator SejatiKalaulah kita hendak mendulang sebuah eksemplar yang nyaris sempurna tentang INOVASI, maka perusahaan Apple mungkin pilihan yang tak terelakkan. Hampir semua perusahan…12 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:sony
-
Dalam Perang Inovasi, Musuh Terberat Seringkali Datang dari Dirimu SendiriSenja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu,…15 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:sony
-
Cerita tentang Blue Ocean StrategyBlue Ocean Strategy merupakan salah satu tema penting dalam wacana manajemen strategi lima tahun belakangan. Digagas oleh profesor asal Korea, Chan Kim…12 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:sony
-
Perusahaan Kuat Akan Jatuh Bila….Beberapa manajer yang bekerja di perusahaan elektronik Jepang dan pabriknya ada di Indonesia merasa sangat terusik dengan tulisan yang berbau-bau bahwa perusahaan…6 Jan 2026 • GeneralAllTerkait:robohnya sony panasonic sharp
-
C.A.L.M: Jurus Tenang Saat Emosi Mulai MeninggiKamu Tak Perlu “Menang” Saat Itu Yang Kamu Perlu Memimpin Situasi Banyak orang berpikir bahwa bisa tetap tenang dalam situasi sulit itu…7 Jul 2025 • GeneralAllTerkait:sharp
-
The Death of ExpertiseApa yang dimaksud dengan The Death of Expertise ‘The Death of Expertise’ adalah sebuah konsep yang merujuk pada kemerosotan nilai-nilai keahlian dan…11 Mar 2025 • GeneralAllTerkait:death