Home / Topics / Human Resources / Membangun Sense of Ownership Karyawan
- This topic has 6 replies, 3 voices, and was last updated 1 year, 2 months ago by
Albert Yosua Matatula.
Membangun Sense of Ownership Karyawan
July 3, 2025 at 3:23 pm-
-
Up::3
Dalam dunia kerja yang kompetitif dan terus berubah, peran tanggung jawab pribadi menjadi semakin penting. Banyak karyawan yang menjalankan tugas hanya karena kewajiban, bukan karena rasa memiliki terhadap pekerjaan itu sendiri. Padahal, salah satu kunci utama dalam membangun kinerja yang luar biasa terletak pada sikap yang disebut sense of ownership—rasa memiliki yang mendalam terhadap pekerjaan, tim, dan organisasi.
Sense of ownership bukan sekadar tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang bagaimana seseorang melihat pekerjaan itu sebagai bagian dari dirinya. Ketika seseorang memiliki rasa memiliki yang kuat, ia tidak lagi menunggu instruksi, tidak mudah menyalahkan orang lain ketika terjadi masalah, dan selalu berinisiatif untuk menemukan solusi. Ia menjaga kualitas kerja seolah-olah itu adalah usahanya sendiri, dan merasa bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan maupun kegagalan yang terjadi.
“The best employees act like owners, not renters.”
— Liz RyanOrang-orang dengan sense of ownership biasanya menunjukkan ciri-ciri yang khas. Mereka tidak berkata, “Itu bukan bagian saya,” karena bagi mereka, keberhasilan tim adalah keberhasilan pribadi. Mereka aktif mengambil peran, bahkan di luar deskripsi tugasnya. Mereka merasa tidak nyaman jika pekerjaan terbengkalai atau hasilnya tidak maksimal. Mereka berani mengambil keputusan, dan pada saat yang sama siap menerima konsekuensi serta melakukan perbaikan jika dibutuhkan.
Rasa memiliki dalam pekerjaan juga mendorong kinerja tim secara keseluruhan. Ketika satu individu memiliki ownership, ia menjadi penggerak yang bisa mempengaruhi rekan-rekannya. Tim menjadi lebih mandiri, lebih percaya diri, dan lebih cepat menyelesaikan tantangan. Sebaliknya, ketika tidak ada ownership, budaya saling lempar tanggung jawab akan terbentuk. Tidak ada yang merasa benar-benar bertanggung jawab, semua hanya ingin “menyelesaikan bagiannya”, dan kualitas kerja pun menurun.
Untuk membangun sense of ownership, dimulai dari kesadaran pribadi. Seorang karyawan bisa melatihnya dari hal-hal sederhana seperti menjaga kerapihan area kerja, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa harus diingatkan, atau memberikan ide perbaikan tanpa diminta. Semakin sering seseorang mengambil inisiatif dan mengerjakan tugas dengan niat “ini pekerjaanku, bukan sekadar tugasku”, maka rasa memiliki itu akan tumbuh kuat.
Namun, sense of ownership tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Organisasi dan pimpinan pun memegang peran besar. Budaya kerja yang terbuka, komunikasi dua arah, dan pemberian ruang untuk berkembang adalah unsur penting dalam menumbuhkan rasa memiliki. Pemimpin perlu mempercayai timnya, memberi tanggung jawab yang nyata (bukan sekadar perintah), dan mengakui hasil kerja dengan jujur. Saat seseorang merasa dihargai dan dipercaya, ia akan lebih terdorong untuk bertanggung jawab dan berkontribusi sepenuh hati.
“People support what they help create.”
— Margaret MeadDalam praktiknya, sense of ownership terbukti berdampak signifikan pada peningkatan performa. Sebuah studi kasus pada sebuah tim pemasaran digital menunjukkan bahwa setelah diberikan pelatihan dan pelibatan langsung dalam perencanaan strategi, kinerja tim meningkat drastis. Setiap anggota merasa proyek adalah milik mereka. Mereka memantau hasil kampanye bukan karena diperintah, tapi karena ingin tahu apakah usaha mereka membuahkan hasil. Mereka bangga saat hasilnya baik, dan bertanggung jawab penuh jika tidak sesuai harapan.
Menutup pembahasan ini, membangun sense of ownership adalah proses yang membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan komitmen bersama. Ia bukan sekadar metode manajemen, tapi fondasi budaya kerja yang kuat. Ketika seseorang bekerja dengan sepenuh hati dan menganggap pekerjaannya adalah cerminan dirinya, maka kinerja hebat bukan lagi target yang jauh, melainkan konsekuensi logis dari kerja yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
“Work becomes meaningful when you own the result, not just the effort.”
— Simon Sinek -
Saya setuju bahwa rasa memiliki terhadap pekerjaan dan tim bukan hanya meningkatkan kinerja individu, tapi juga berpengaruh besar pada dinamika tim secara keseluruhan.
Namun, ada satu hal yang saya ingin tanyakan lebih lanjut. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa rasa memiliki ini tetap terjaga ketika ada tekanan tinggi di tempat kerja? Misalnya, dalam situasi deadline ketat atau saat tim menghadapi banyak tantangan. Kadang, saat tekanan datang, banyak orang yang cenderung fokus hanya pada “menyelesaikan pekerjaan” tanpa benar-benar menginternalisasi rasa memiliki tersebut.
Pertanyaan:
Di sisi lain, apakah sense of ownership ini bisa berkembang pada karyawan yang baru bergabung dalam organisasi? Apa saja langkah awal yang bisa dilakukan oleh pimpinan atau organisasi agar karyawan baru merasa “memiliki” proyek atau pekerjaan mereka, mengingat mereka belum punya ikatan emosional yang kuat dengan tim atau perusahaan?
-
Saya sepakat dengan poin yang disampaikan Albert, terutama tentang tantangan menjaga rasa memiliki saat tekanan tinggi. Memang, dalam kondisi seperti deadline ketat atau workload berat, kita cenderung “survival mode” dan fokus menyelesaikan tugas saja. Tapi justru di momen-momen itulah, budaya tim dan peran pemimpin jadi kunci. Ketika tim merasa saling mendukung dan pemimpin tetap hadir secara emosional (bukan hanya mengawasi), rasa memiliki bisa tetap terjaga walau situasi sedang berat.
Untuk pertanyaan soal karyawan baru—saya percaya sense of ownership bisa mulai tumbuh bahkan sejak hari pertama, asalkan dari awal mereka diajak terlibat, bukan sekadar diarahkan. Misalnya:
Dilibatkan dalam diskusi kecil atau brainstorming, walau mereka belum punya pengalaman banyak
Diberi kepercayaan atas satu bagian kecil dari proyek dan diminta menyampaikan hasilnya langsung
Mendapatkan feedback positif saat berinisiatif, sekecil apa pun
Hal-hal sederhana tapi konsisten seperti ini bisa bikin karyawan baru merasa, “Saya dihargai di sini,” dan dari situlah rasa memiliki bisa mulai tumbuh.
-
Terima kasih Bu Lia atas respons yang sangat bernas dan aplikatif. Saya setuju bahwa keterlibatan sejak awal, rasa dipercaya, serta feedback positif bisa menjadi benih awal munculnya sense of ownership, bahkan pada karyawan baru. Saya jadi teringat salah satu pengalaman pribadi, di mana saya merasa mulai punya rasa memiliki bukan karena tugas yang diberikan, tapi karena diajak berdiskusi soal “mengapa tugas itu penting” untuk tim secara keseluruhan.
-
-
Dan menurut teman-teman,
Apakah pemimpin harus selalu hadir aktif dalam setiap proses, atau cukup memberikan kerangka kerja yang jelas lalu memberi kepercayaan penuh?
Saya yakin pengalaman teman-teman di sini sangat beragam dan bisa jadi pembelajaran bersama 🙏
-
Pertanyaan saya selanjutnya untuk forum ini:
Bagaimana caranya menciptakan ruang aman (psychological safety) agar semua anggota tim, terutama yang baru, merasa bebas menyampaikan ide, bahkan saat mereka masih belajar?
-
Hal ini membuat saya berpikir lebih jauh—kadang karyawan punya niat baik dan mau terlibat, tapi ada juga hambatan budaya seperti:
Adanya “senioritas kaku” yang membuat karyawan baru segan berpendapat
Atau sistem manajerial yang terlalu birokratis, sehingga ruang inisiatif jadi terbatas
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
21 Kriteria Tempat Kerja Ideal. Perusahaan Kamu Sudah Seperti Ini?Puluhan tahun jadi karyawan emang ga bosen? Saya pribadi sudah hampir 20 tahun jadi karyawan di berbagai perusahaan. Merasakan enak dan ga…25 Sep 2024 • Human ResourcesAllTerkait:all pelatihan membangun karyawan memiliki kerja
-
10 HR Tips untuk Meningkatkan Kinerja dan Budaya PerusahaanSumber daya manusia (SDM) adalah aset paling berharga dalam sebuah perusahaan. Ketika pengelolaan HR dilakukan dengan tepat, bukan hanya kinerja meningkat—tapi budaya…7 Jan 2026 • Human ResourcesAllTerkait:all employee pelatihan karyawan memiliki kerja
-
Training Karyawan Masih Manual? Coba LMS Mekari Talenta GRATIS 1 BulanHalo, HR 101 Community! 👋 Mengelola training karyawan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Mulai dari onboarding karyawan baru, pelatihan SOP,…29 May 2026 • Human ResourcesTerkait:training pelatihan learning karyawan memiliki kerja
-
Perhitungan PPh 21 untuk Pegawai resign sebelum DesemberDear Tim Talenta, Mohon dapat dijelaskan, bagaimana aplikasi Talenta dapat mengakomodir jika ada pegawai yang keluar tengah tahun atau sebelum december, dengan…31 Jul 2025 • Human ResourcesAllTerkait:all pegawai tim
-
Memahami Perbedaan Bupot A1 yang Disetahunkan dan Tidak DisetahunkanRekan-rekan HR, belakangan ini saya melihat semakin banyak pertanyaan terkait pembuatan Bukti Potong (Bupot) PPh 21 Formulir BPA1, terutama setelah berlakunya PER-11/PJ/2025.…4 Dec 2025 • Human ResourcesAllTerkait:all pegawai kerja tim
-
Jangan Pernah Ucapkan 10 Hal Ini Saat Leadership Interview!!<p style="text-align: left;">Saya tahu Leadership Interview itu susah. Satu kalimat saja bisa mengubah pandangan orang terhadapmu. Sedikit kesalahan bisa bikin mereka ragu…11 Feb 2025 • Human ResourcesAllTerkait:all membangun kerja pekerjaan tim kinerja
-
PPh 21 “Disetahunkan” dan “Setaun” (tanpa Disetahunkan)Jika ada pegawai yang resign pada bulan Februari 2025, pilihan yang tepat di Coretax tergantung pada metode perhitungan pajak yang digunakan perusahaan.…28 Jan 2026 • Human ResourcesAllTerkait:all pegawai kerja
-
Lihat Perjalanan Karier dan Performa Karyawan dalam Satu Tampilan Talent Profile DashboardHalo, HR 101 Community! 👋 Setiap keputusan terkait karyawan mulai dari promosi, succession planning, hingga penyusunan program pengembangan membutuhkan insight yang tepat.…30 Jul 2026 • Human ResourcesTerkait:employee learning membangun karyawan memiliki kerja
-
Kopdar Perdana HR 101 Community Serunya Bikin Makin Akrab!Pada tanggal 21 Juni kemarin HR 101 Community baru saja mengadakan acara Kopdar untuk pertama kalinya yang berlokasi di Mekari New Office.…16 Jun 2025 • Human ResourcesAllTerkait:all membangun tim
-
Update di Talenta Employee & Company Management: Kini Lebih Fleksibel Delegasikan Akses dan Pindahkan Saldo Cuti & Reimbursement Antar PerusahaanHalo, HR 101 Community! 👋 Kalimat sederhana itu bisa jadi cukup familiar bagi HR yang mengelola beberapa perusahaan dalam satu grup. Apalagi…13 Sep 2026 • Human ResourcesTerkait:employee karyawan memiliki pekerjaan tim seseorang
-
Ingin Pastikan Karyawan Bermasalah Tidak Direkrut Lagi? NIK Karyawan Kini Bisa Diblokir Sepenuhnya di Fitur Restricted EmployeeHalo, HR 101 Community! 👋 Pernah Anda mengalami situasi seperti ini? Seorang mantan karyawan yang pernah bermasalah sudah dimasukkan ke daftar blacklist.…10 Jul 2026 • Human ResourcesTerkait:employee karyawan memiliki
-
Berhenti Menormalisasi “Delegasi” di Tempat KerjaBerhenti Menormalisasi "Delegasi Terselubung" di Tempat Kerja: Saat Atasan Melimpahkan Tanggung Jawab Utama pada Bawahan Dunia profesional modern sering kali mendengungkan pentingnya…5 Oct 2026 • Human ResourcesTerkait:pelatihan karyawan memiliki kerja jawab pekerjaan

