Home / Topics / Marketing & Sales / Produkmu Itu Dijual Kepada Siapa sih Sebenarnya?
- This topic has 7 replies, 2 voices, and was last updated 9 months ago by
Albert Yosua Matatula.
Produkmu Itu Dijual Kepada Siapa sih Sebenarnya?
May 31, 2025 at 5:43 pm-
-
Up::1
Banyak yang bilang ketika ditanya seputar produk, “Eh target Market mu itu siapa?” dan akan dijawab “Target Market saya adalah semua Orang, jadi akan semakin banyak yang beli”. Banyak banget kan jawaban seperti ini? Padahal Seth Godin dan juga Philip Kotler sering banget bilang Prinsip dasar Marketing, -Bapaknya para Marketer-, “If you try to sell to everyone, you’ll end up selling to no one.” yang artinya “Jika kamu menjual ke semua orang, berarti kamu tidak menjual ke siapa pun”.
Dari statement para Mastah dunia ini kita bisa tarik kesimpulan bahwa dari jutaan market yang ada diluar sana, produk harus punya market spesifik untuk memenuhi demand di kategori tertentu. Baik itu bisa dari segi umur, demografi, habit, minat dan sebagainya. Semakin spesifik semakin bagus untuk kegiatan Marketing.
Pengalaman kami adalah test market menggunakan Meta Ads sebelum menentukan Buyer Persona dari produk kami. Kami memang bergerak dari Produk dulu, bukan dari Market dulu. Selanjutnya kita akan mengklasifikasikan Temperatur Marketnya yaitu: TOFU, MOFU, BOFU.
TOFU atau Top of Funnel adalah market yang COLD, mereka tidak tau siapa kita, tidak tau kalau mereka punya masalah dan tugasnya kita sebagai Marketer adalah mengenalkan branda dan menyadarkan mereka punya masalah yang terkait produk yang akan kita jual.
Kemudian MOFU atau Middle of Funnel adalah Market yang WARM, mereka sudah tau siapa kita dan mereka sadar bahwa mereka punya masalah serta berusaha untuk mencari solusinya, di area ini biasanya market sudah mulai tanya-tanya ke WA, kepo terkait brand kita. Tugas dari marketer adalah meyakinkan mereka bahwa benar, hanya brand kita lah solusi dari permasalahannya mereka.
Yang terakhir adalah BOFU atau Bottom of Funnel adalah market yang HOT, yang sudah mau transfer atau bayar cuman masih sering ke tahan, akhirnya belum closing-closing. Tugas marketer adalah Hard Selling, mengingatkan atau Checkout Reminder.
Nah itulah Market Temperatur yang selalu menjadi acuan tim Marketing kami untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Closing dan capai target. Ketika sudah menemukan Fit Market, kemudian mengklasifikasinnya secara detail maka tim yang bertanggung jawab di TOFU (Adevertiser), MOFU (Sales) dan BOFU (Sales) akan punya sistem baku untuk mengalirkan Customer Journey kepada Closing. Mulailah dari mengenal audiensmu, karena di sanalah semua strategi marketing yang sukses bermula.
-
Insight soal pentingnya mengenali siapa sebenarnya target market kita memang seringkali diremehkan, apalagi oleh pelaku bisnis yang masih di tahap awal. Banyak yang masih berpikir “semakin luas pasar, semakin besar peluang”, padahal malah bisa jadi jebakan karena pesan marketingnya jadi nggak nyambung ke siapa pun.
Penjelasan tentang Market Temperature (TOFU, MOFU, BOFU) juga sangat berguna! Saya pribadi setuju banget kalau strategi komunikasi dan pendekatan harus disesuaikan dengan posisi audiens dalam funnel. Sering kali kita terlalu cepat “jualan” ke audiens yang masih dingin, padahal mereka belum merasa butuh — akhirnya malah drop interest.
Saya juga tertarik dengan pendekatan Mas Faisal yang produk dulu baru market testing via Meta Ads. Ini cocok banget untuk produk yang sifatnya eksploratif atau belum ada benchmark kuatnya. Tapi memang risikonya, fase validasi bisa makan waktu dan budget kalau tidak diarahkan dengan segmentasi yang jelas sejak awal.
Saya jadi kepikiran — dalam proses menentukan Buyer Persona lewat Meta Ads itu, apakah Mas Faisal dan tim lebih mengandalkan data dari interest targeting atau juga combine dengan behavior (misalnya interaksi konten atau kunjungan ke landing page)?
-
Untuk Buyer Persona, kami lebih besar prosentase nya di behavior yang berinteraksi degan konten atau leads yang sudah masuk ke WA.
Tapi untuk soon to be targeting (Scale-up Target Market) kami tetap mengandalkan interest targeting dari Meta Ads, karena FGD kita hanya Asumsi saja tanpa data yang perlu di validasi lebih lanjut dengan running Meta Ads selama 7 hari. Terlebih lagi kami tidak punya benchmark, bener apa yang dikatakan Kak Albert Yosua.
-
-
Menarik sekali pendekatan yang Mas Faisal dan tim gunakan dalam menggabungkan data behavior dengan interest targeting. Memang rasanya saat ini, behavior-based targeting punya potensi lebih akurat karena berbasis pada aksi nyata user, bukan hanya asumsi preferensi mereka.
Setuju juga soal pentingnya validasi asumsi FGD lewat real data dari Meta Ads. Insight ini penting banget buat pelaku usaha yang sering terlalu percaya diri sama “feeling” atau asumsi awal tanpa mau diuji secara objektif di lapangan.
Saya penasaran juga nih — setelah dapet data dari behavior-based dan interest-based targeting, apakah Mas Faisal punya semacam sistem atau indikator tertentu untuk menentukan apakah satu segment itu layak dijadikan primary persona (misalnya dari rasio conversion, CTR, atau tingkat engagement tertentu)?
Atau mungkin ada fase evaluasi mingguan/bulanan untuk ngecek apakah targeting yang sedang dijalankan masih relevan atau perlu di-adjust?
-
Indikator utama untuk segment yang layak di jadiin primary persona buat kami adalah CTR. Semakin besar Rasio nya, berarti semakin tertarik pasar tersebut.
Tinggal kami cari angle nya untuk pasar tersebut sebanyak mungkin di Creative Copy nya. Dites lagi mana yang winning.
-
-
Memang CTR jadi indikator yang powerful banget buat lihat seberapa nyambungnya iklan kita sama target pasar.
Setuju juga, penting banget terus eksplorasi angle dan creative copy biar bisa nyari “winning formula” yang paling pas. Kadang dari percobaan kecil bisa dapat insight besar soal perilaku audience yang kadang gak terduga.
Kalau boleh nambah, saya juga sering pakai evaluasi mingguan buat lihat tren CTR dan engagement, terus adjust targeting atau pesan iklan kalau mulai menurun. Penting banget buat fleksibel karena perilaku audiens itu dinamis.
Kalau Kak Faisal biasanya pakai tools atau metode khusus gak buat analisis CTR dan performa creative? Atau lebih pakai feel dari data yang muncul di dashboard saja?
-
“Kalau boleh nambah, saya juga sering pakai evaluasi mingguan buat lihat tren CTR dan engagement, terus adjust targeting atau pesan iklan kalau mulai menurun. Penting banget buat fleksibel karena perilaku audiens itu dinamis.”
Boleh banget ini sarannya
Untuk tools melihat CTR, kami menggunakan Dashboard Meta Ads saja
-
-
Ternyata dengan mengandalkan dashboard Meta Ads saja pun sudah cukup powerful ya, apalagi kalau memang rutin dipantau dan timnya peka membaca sinyal data. Insight tentang terus eksplorasi creative copy ke segmen dengan CTR tinggi juga sangat praktis dan aplikatif — ibaratnya kita bukan hanya mencari market fit, tapi juga message fit.
Saya jadi makin penasaran, Kak. Dari pengalaman Kak Faisal, biasanya butuh berapa banyak variasi creative yang dites sebelum akhirnya ketemu yang “winning”? Dan apakah Kakak pernah menemukan bahwa satu segmen bisa punya multiple winning angles, tergantung fase funnel-nya (TOFU/MOFU/BOFU)?
Sering kali saya temui juga, angle yang works di TOFU justru gak relevan kalau dipakai di BOFU. Jadi penasaran gimana tim Kak Faisal mengatur itu biar tetap terstruktur dan efisien.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Perdagangan Karbon di Indonesia Pasca POJK 14/2023: Peluang dan TantanganIndonesia, sebagai negara dengan luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, memiliki peran strategis dalam pengendalian perubahan iklim global. Namun, deforestasi dan…20 Jun 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa sih
-
B2B Sales harus paham 10 hal1. Semakin kompleks proses pengambilan keputusan client, semakin besar biaya yg harus dikeluarkan oleh salesman. Make it worth it! 2. Decision maker…14 Aug 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa sebenarnya
-
Pelajaran Bisnis Penting dari Sukses FamilyMart IndonesiaDalam beberapa tahun terakhir, kehadiran FamilyMart di Indonesia semakin mencolok. Dari sekadar toko swalayan waralaba asal Jepang, FamilyMart menjelma menjadi gaya hidup…16 Feb 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa sih sebenarnya
-
Sales Selalu Nombok, Target Closing Gagal: Gimana Caranya Kembali Berdaya?”Hai sobat Mekari Community! Siapa di sini yang ngalamin fase "sales selalu nombok, target closing tidak pernah tercapai"? Kalau kamu salah satunya,…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa sih
-
AI-Driven Creativity vs Brand Authenticity: Sinergi, Bukan PertentanganDi era digital yang serba cepat ini, muncul pertanyaan menarik: apakah kreativitas manusia akan tergeser oleh kecerdasan buatan (AI)? Atau justru, AI…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa
-
Marketing 2025:Bukan Hnya Jual Produk,Tpi Menjual Hub. yg Dipersonalisasi olh AIMarketing 2025: Bukan Hanya Jual Produk, Tapi Menjual Hubungan yang Dipersonalisasi oleh AI! 🤖❤️ Halo Rekan-rekan Komunitas! Perkembangan marketing di paruh kedua…13 Nov 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
Optimalkan IE-CEPA: Peluang Besar bagi UMKM dan Dunia Usaha IndonesiaHalo rekan-rekan Mekari Community, Saya ingin membagikan insight penting terkait pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Wakil Presiden Konfederasi…8 Oct 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
Senjata Rahasia Karier: Kata, Pikiran, Kehadiran!Kata-kata, pikiran, dan kehadiran Anda adalah alat ampuh yang sering kali diremehkan orang. Efek kumulatifnya bisa mengubah arah karier Anda secara dramatis.…7 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:siapa sih
-
Program Paket Ekonomi 2025 – Langkah Strategis atau Solusi Sementara?Halo Fintax Community, Saya ingin mengangkat diskusi terkait peluncuran Program Paket Ekonomi 2025 oleh pemerintah, yang baru saja diumumkan dengan total pagu…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
Ini Rahasia Bikin Suara Anda Dipercaya dan Didengar🚨 Ini dia rahasia yang jarang dibicarakan orang: Percaya diri itu modal awal biar Anda bisa 'masuk' ke suatu lingkungan atau obrolan.…18 Sep 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
AS, India, Dan Filipina Jadi Penyumbang Surplus Dagang Terbesar Indonesia(Jakarta) Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 23,56 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2025. Angka…5 Jan 2026 • Marketing & SalesAllTerkait:sih
-
Dorong Daya Saing Global, Dua Perusahaan Industri Raih Izin Kawasan Berikat(Jakarta) Kanwil Bea Cukai Jakarta resmi memberikan fasilitas Kawasan Berikat kepada dua perusahaan di bawah pengawasannya. Fasilitas ini diberikan kepada dua perusahaan…11 Sep 2025 • Marketing & SalesAllTerkait:kepada