Home / Topics / Finance & Tax / Penerimaan Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Capai Rp 169,6 Triliun
- This topic has 4 replies, 2 voices, and was last updated 9 months, 1 week ago by
Albert Yosua Matatula.
Penerimaan Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Capai Rp 169,6 Triliun
May 30, 2025 at 3:53 pm-
-
Up::1
(Jakarta) Realisasi penerimaan neto Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Wajib Pajak Besar atau Large Tax Office (LTO) hingga 30 April 2025 mencapai Rp 169,6 triliun. angka tersebut setara dengan 23,08 % dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 734,714 triliun.
Dari sisi jenis pajak, Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Besar, Yunirwansyah menjelaskan bahwa mayoritas pajak utama mengalami kontraksi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ini antara lain penurunan Tax Effective Rate (TER), volatilitas harga komoditas, peningkatan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP), serta pemberian relaksasi pelaporan dan penyetoran SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Meskipun demikian, sejumlah sektor usaha utama tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 6,77 % secara tahunan, sektor pengadaan listrik, gas, dan uap naik 20,98 %, sektor pengangkutan dan pergudangan naik 23,15 %, serta sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 141,54 % secara tahunan.
Dalam arahannya, Yunirwansyah meminta seluruh jajarannya untuk mengamankan penerimaan pajak sesuai pedoman dari Kantor Pusat DJP dan melakukan upaya maksimal melalui Komite Kepatuhan. Secara keseluruhan, kinerja APBN regional hingga April 2025 tercatat resilien. Pendapatan negara mencapai Rp 557,35 triliun atau 31,05 % dari target, sedangkan realisasi belanja sebesar Rp 440,99 triliun atau 23,87 % dari pagu. Hal ini menghasilkan surplus anggaran sebesar Rp 116,37 triliun.
-
23% realisasi penerimaan pajak besar sampai April 2025 jadi artinya perjalanan masih panjang ya. Kontraksi pajak utama menunjukkan tantangan nyata: dari penurunan tarif efektif sampai volatilitas harga komoditas.
Tapi ada kabar baik juga: sektor konstruksi naik 141% 🚧 dan logistik tumbuh 23% 🚚 jadi ini terindikasi bahwa belanja infrastruktur mulai berdampak.
Kuncinya sekarang yaitu bagaimana DJP menjaga momentum ini tanpa terlalu bergantung pada sektor tertentu, dan memastikan kepatuhan pajak bukan sekadar target, tapi budaya.
Kalau penerimaan pajak ibarat lari maraton, baru kilometer ke-10. Masih ada waktu, tapi gak bisa lari santai. 🏃💨
-
Betul, Lia! Analogi maratonnya pas banget. 🚩 Memang masih jauh dari garis finis, tapi pace awal ini bisa jadi indikator penting: stamina fiskal dan strategi lapangan.
Menariknya, lonjakan sektor konstruksi dan logistik bisa kita baca sebagai efek berantai dari belanja negara — artinya multiplier effect-nya mulai terasa. Tapi seperti yang kamu bilang, terlalu bergantung pada sektor tertentu itu berisiko, apalagi kalau fluktuasi global dan kebijakan fiskal tidak sinkron.
Dari sisi pengawasan, kerja Komite Kepatuhan akan sangat krusial. Tapi menurutku, DJP juga harus memperkuat pendekatan compliance risk management berbasis data, bukan hanya aksi penagihan. Pendekatan preventif jauh lebih efektif dalam jangka panjang.
Terakhir, soal budaya kepatuhan: ini PR lintas generasi. Kalau edukasi dan transparansi pajak terus ditingkatkan, bukan tidak mungkin trust publik ke sistem bisa ikut tumbuh. Dan itu lebih sustainable dibanding sekadar mengandalkan lonjakan kuartalan.
Semoga DJP bisa jaga irama larinya — cepat tapi tetap presisi.
-
Nah, itu dia, Albert! 🙌
Aku setuju banget bahwa trust publik adalah “bahan bakar” jangka panjang buat keberlanjutan sistem pajak kita. Edukasi dan transparansi harus berjalan beriringan ya bukan hanya kampanye sesekali, tapi jadi bagian dari komunikasi yang konsisten.Dan soal compliance risk management, aku senang kamu singgung itu. Artinya pendekatan DJP ke depan harus makin personal dan berbasis data ya bukan hanya sekadar masif tapi juga cermat. Misalnya, wajib pajak yang niat baik tapi kurang paham harus dibedakan dengan yang sengaja menghindar.
Karena pada akhirnya, maraton fiskal ini bukan soal siapa yang dikejar, tapi bagaimana semua bisa sampai garis finis bareng.
Dengan ritme yang kuat, strategi yang bisa menyesuaikan kondisi, dan kepercayaan yang tumbuh, aku percaya perjalanan ini bukan cuma bisa selesai… tapi bisa dicontoh juga oleh negara lain. 💡🌏
-
-
Edukasi dan transparansi itu kunci jangka panjang yang nggak bisa cuma sesekali. Memang harus jadi budaya yang terus tumbuh dalam masyarakat kita. Kuncinya adalah kesadaran yang dibangun bukan hanya melalui regulasi atau penalti, tapi juga pemahaman mendalam mengenai manfaat pajak itu sendiri.
Bicara soal compliance risk management, aku rasa DJP perlu meningkatkan pemanfaatan big data dan teknologi AI untuk lebih tepat sasaran. Misalnya, dengan analisis perilaku wajib pajak yang sudah punya riwayat baik bisa mendapatkan pendampingan lebih lanjut, sementara yang berisiko atau sengaja menghindar bisa diidentifikasi lebih awal. Pemanfaatan data ini bisa lebih preventif dan efisien, tanpa harus selalu mengandalkan audit fisik yang memakan waktu dan sumber daya.
Soal maraton ini, aku setuju banget — jalan bersama itu lebih penting daripada sekadar lari cepat di awal. Keberlanjutan sistem pajak itu soal menjaga ritme yang tepat di setiap tahapannya, bukan hanya mengejar kuota atau target.
Jadi, untuk teman-teman yang punya pengalaman atau tantangan terkait kepatuhan pajak, apa sih yang menurut kalian bisa lebih dioptimalkan oleh DJP dalam mendekati wajib pajak agar lebih patuh tanpa harus merasa terbebani? 🤔
Mungkin ada yang punya insight menarik, yuk diskusi! 👇
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Penggantian Jabatan NPWP Sementara (999) Menjadi NIK Valid pada Bukti Potong PPh Pasal 21 Bulanan (BPMP)Dalam rangka mendukung kelancaran pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi Tahun Pajak 2025, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah melakukan proses penggantian identitas secara…13 Mar 2026 • Finance & Taxpajak-djp-coretax-pph21-spttahunan-spt2025Terkait:djp wajib pajak
-
Optimalisasi Pajak Perusahaan dengan Fasilitas Pasal 31E UU PPhTidak semua penghasilan yang diperoleh perusahaan secara otomatis dikenakan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan secara penuh. Dalam sistem perpajakan di Indonesia, pemerintah…10 Mar 2026 • Finance & Taxpajak-perusahaan pasal-31e pkp pph-badanTerkait:wajib pajak besar
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Dalam kerangka akuntansi akrual dan perspektif perpajakan, Accounts Payable (AP) dan Accounts Receivable (AR) tidak hanya berdampak pada laporan posisi keuangan, tetapi…15 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:wajib pajak
-
Jangan Abaikan Bukti Potong A1, Bisa Berisiko BesarDi dunia perpajakan, bukti potong A1 sering dianggap sepele oleh sebagian orang—“Ah, itu cuma formalitas, nanti tinggal lapor pajak lagi,” begitu pikir…10 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:wajib pajak besar
-
PMK 100/2025 dan Tantangan Implementasi Akuntansi Berbasis AkrualPMK 100/2025 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat menurut saya merupakan langkah penting dalam memperkuat fondasi tata kelola keuangan negara, khususnya di era…16 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:wajib
-
PMK 112/2025 dan 6 Instrumen Pencegahan Penyalahgunaan P3BPMK 112/2025 menjadi regulasi yang sangat menarik untuk dicermati, khususnya terkait penguatan instrumen pencegahan penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Ketentuan dalam…6 Jan 2026 • Finance & TaxAllTerkait:djp wajib pajak besar
-
Bea Keluar Batu Bara 5%–11%: Tantangan Implementasi dan DampaknyaRencana pemerintah mengenakan bea keluar atas ekspor batu bara dengan tarif progresif 5%–11% sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menurut saya…6 Jan 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan pajak besar triliun
-
PMK 115/2025: Fleksibilitas Fiskal atau Sinyal Tekanan Penerimaan Negara?Terbitnya PMK 115/2025 yang merevisi PMK 179/2022 menarik untuk dicermati lebih dalam, khususnya dalam konteks penerimaan negara yang sedang mengalami tekanan. Regulasi…6 Jan 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan pajak capai
-
PMK 51/2025 Simak Lagi! Pihak-Pihak yang Ditunjuk Jadi Pemungut PPh Pasal 22PMK Nomor 51 Tahun 2025 kembali menegaskan posisi strategis PPh Pasal 22 sebagai instrumen pengamanan penerimaan negara, khususnya pada transaksi-transaksi bernilai besar…16 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan wajib pajak besar
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Minggu ini, dunia perpajakan Indonesia dipenuhi oleh dua topik yang menjadi perbincangan hangat di kalangan wajib pajak, konsultan, dan praktisi pajak: pemulihan…9 Dec 2025 • Finance & TaxAllTerkait:djp wajib pajak besar
-
Kasus Faktur Pajak Fiktif Rp 10,6 Miliar, Tiga Tersangka Diserahkan Ke KejaksaanKasus penyerahan tiga tersangka pemalsuan faktur pajak fiktif oleh Kanwil DJP Jakarta Barat kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat kembali menjadi pengingat bahwa…24 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan kanwil djp wajib pajak besar
-
PPh 21 DTP = Tambahan Gaji Bersih, Bukan Potongan Pajak!💬 Masih Banyak yang Salah Paham soal PPh 21 DTP! Banyak perusahaan masih mengira bahwa jika sudah memakai sistem Net (pajak ditanggung…7 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:wajib pajak