Home / Topics / Finance & Tax / Surplus Bank Indonesia dan Kontribusinya terhadap Penerimaan Pajak
- This topic has 14 replies, 6 voices, and was last updated 6 months ago by
Ulan Safitri.
Surplus Bank Indonesia dan Kontribusinya terhadap Penerimaan Pajak
November 13, 2025 at 4:26 pm-
-
Up::0
Menarik sekali membaca kabar terbaru bahwa Bank Indonesia (BI) akan menyumbang penerimaan pajak sebesar Rp2,28 triliun pada tahun depan. Angka ini muncul seiring dengan proyeksi surplus BI sebesar Rp16,48 triliun dalam Rencana Anggaran Tahunan BI (RATBI) 2026. Tahun ini pun BI mencatatkan surplus Rp33,37 triliun dan sudah membayar pajak Rp1,56 triliun hingga September. Melihat hal ini, saya tertarik untuk mendiskusikan dua hal: bagaimana mekanisme perpajakan terhadap lembaga negara seperti BI, dan apa makna ekonominya bagi penerimaan negara.
Seperti dijelaskan dalam berita, surplus BI menjadi objek Pajak Penghasilan (PPh) berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf s UU PPh, serta diatur lebih lanjut dalam PMK 100/2011 jo. PMK 86/2015. Artinya, sekalipun BI bukan badan usaha biasa, lembaga ini tetap memiliki kewajiban fiskal atas surplus operasionalnya. Hal ini menarik karena BI sejatinya adalah bagian dari struktur keuangan negara — entitas yang mengelola kebijakan moneter, bukan pencipta laba dalam arti komersial. Jadi, ketika BI “membayar pajak” ke pemerintah, sesungguhnya kita sedang menyaksikan proses sirkulasi fiskal antar lembaga publik yang cukup unik.
Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan menarik: apakah pembayaran pajak oleh BI ini benar-benar menambah penerimaan negara secara substantif, atau hanya bersifat transfer internal dalam neraca keuangan pemerintah? Sebab, surplus BI sendiri berasal dari hasil operasi moneter — seperti selisih kurs, pengelolaan cadangan devisa, dan hasil penempatan dana — yang sejatinya bersumber dari aktivitas ekonomi nasional. Dengan demikian, kontribusi pajak BI mungkin lebih bersifat simbolik dan akuntansi, bukan tambahan “uang segar” dalam kas negara.
Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa mekanisme ini mencerminkan disiplin fiskal dan transparansi. BI, sebagai lembaga independen, tetap tunduk pada kewajiban perpajakan seperti entitas lain. Ini memperkuat akuntabilitas publik dan menjadi contoh bahwa setiap lembaga — bahkan otoritas moneter — tetap berkontribusi terhadap penerimaan negara. Dari sudut pandang tata kelola keuangan publik, hal ini menunjukkan adanya konsistensi antara kebijakan moneter dan fiskal, yang idealnya saling mendukung stabilitas ekonomi nasional.
Namun, saya juga ingin mengajak rekan-rekan di forum untuk melihat dari sisi efektivitas kebijakan. Dengan proyeksi pajak Rp2,28 triliun dari BI, kontribusinya terhadap total penerimaan pajak nasional (yang biasanya di atas Rp2.000 triliun) sebenarnya sangat kecil, di bawah 0,2%. Artinya, meskipun signifikan secara simbolik, secara fiskal mungkin tidak terlalu berdampak besar terhadap APBN. Pertanyaannya, apakah mekanisme seperti ini sebaiknya terus dipertahankan sebagai bentuk tata kelola fiskal yang sehat, atau justru perlu dikaji ulang agar surplus BI bisa langsung digunakan untuk memperkuat cadangan devisa dan stabilitas moneter?
Selain itu, menarik juga bila kita bahas bagaimana proses penyesuaian fiskal atas surplus BI dilakukan. Dalam PMK disebutkan bahwa beberapa komponen seperti selisih kurs, penyisihan aktiva, dan penyusutan diatur secara khusus untuk menyesuaikan karakteristik BI. Ini menunjukkan bahwa meskipun disebut “surplus”, angka tersebut tidak sepenuhnya bersifat riil atau kas, melainkan hasil penyesuaian akuntansi yang kompleks. Maka dari itu, ada ruang diskusi apakah pengenaan PPh atas surplus tersebut benar-benar mencerminkan kemampuan fiskal BI, atau justru menciptakan beban administratif yang tidak perlu.
Dengan latar belakang tersebut, saya ingin mengajukan pertanyaan untuk rekan-rekan di komunitas:
➡️ Bagaimana pandangan Anda tentang relevansi BI sebagai pembayar pajak dalam konteks fiskal nasional?
➡️ Apakah mekanisme ini sebaiknya dipertahankan demi akuntabilitas, atau sebaiknya direvisi agar surplus BI langsung digunakan untuk stabilisasi ekonomi tanpa “transfer” pajak ke kas negara?
➡️ Dan, menurut Anda, sejauh mana koordinasi antara kebijakan fiskal (pajak dan APBN) dengan kebijakan moneter BI bisa diperkuat agar lebih sinkron dan efisien?Mari kita bahas bersama — karena meskipun angka Rp2,28 triliun terlihat kecil di atas kertas, di baliknya terdapat dinamika besar antara kebijakan fiskal, moneter, dan tata kelola keuangan negara yang menarik untuk dikaji lebih dalam. 💬📊
-
Menurut saya, pajak atas surplus BI memang terlihat seperti internal transfer, tapi tetap punya makna penting dalam arsitektur fiskal. Mekanisme ini memastikan bahwa seluruh entitas negara — termasuk BI — tetap berada dalam kerangka yang tertib dan akuntabel. Walaupun kontribusinya kecil, aturan pajak ini menjaga konsistensi sistem perpajakan dan mencegah adanya ruang abu-abu dalam pelaporan surplus lembaga publik
-
Kalau bicara governance, mekanisme ini memberi pesan simbolik yang kuat: tidak ada lembaga yang berada “di luar sistem.” BI tetap tunduk pada kewajiban fiskal, sehingga integritas laporan surplus dan operasionalnya semakin transparan. Dalam konteks kepercayaan publik, hal ini penting — apalagi BI memegang mandat besar di bidang moneter
-
Dari sisi moneter, bisa dipertimbangkan apakah kebijakan ini masih relevan. Surplus BI biasanya terkait operasi moneter dan pengelolaan cadangan devisa, yang seharusnya optimal jika dapat langsung memperkuat stabilitas nilai tukar dan likuiditas. Mekanisme “pajak” mungkin justru menambah proses administratif tanpa manfaat fiskal nyata. Revisi aturan bisa mengarah pada penyeimbangan yang lebih efisien antara stabilitas moneter dan kebutuhan fiskal.
-
Yang lebih penting adalah sinkronisasi kebijakan fiskal–moneter. Dengan tantangan ekonomi yang makin kompleks, koordinasi antara Kemenkeu dan BI harus semakin erat. Baik surplus BI maupun penerimaan negara dari pajak seharusnya dilihat dalam kerangka kebijakan makro yang terintegrasi. Pertanyaannya bukan sekadar soal BI bayar pajak atau tidak, tetapi bagaimana setiap instrumen — moneter, fiskal, dan akuntansi negara — bekerja bersama untuk pertumbuhan dan stabilitas
-
-
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmPertanyaannya menarik, tapi perlu diluruskan dulu: Bank Indonesia (BI) pada dasarnya bukan “pembayar pajak” seperti perusahaan biasa. Relevansinya dalam fiskal nasional justru tidak utama lewat pajak, melainkan lewat mekanisme lain yang lebih strategis.
-
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmBI bukan “pembayar pajak utama”, tapi “penjaga sistem” agar pajak negara tetap bisa tumbuh.
-
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmLangkah pemerintah melalui Satgas PKH bukan sekadar penertiban teknis.
Ini adalah:
upaya membangun ulang fondasi sektor sawit Indonesia—dari legalitas lahan sampai transparansi ekspor.
-
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmKenapa Pendekatan Hulu–Hilir Ini Penting?
Selama ini, penanganan sektor sawit sering terfragmentasi:Hulu diurus satu instansi
Hilir diurus instansi lain
Data tidak sinkron
Akibatnya:Kebijakan tidak efektif
Banyak celah yang dimanfaatkan -
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmKe Hilir: Negara Mulai Menutup Celah Penerimaan
Di sisi hilir, keterlibatan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menunjukkan bahwa fokusnya bukan hanya tata kelola, tapi juga optimalisasi penerimaan negara.Pengawasan ekspor menjadi krusial karena:
Nilai ekspor sawit sangat besar
Rentan praktik seperti under-invoicing, manipulasi dokumen, atau pelanggaran ketentuan ekspor -
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmLangkah ini penting, karena tanpa pembenahan di hulu, kebijakan di hilir seringkali hanya “menutup kebocoran”, bukan menyelesaikan sumbernya.
-
Amilia Desi MarthasariRockstar
4 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Isi dan selesaikan 10 Quiz dengan minimal score 80 sebagai syarat kenaikan Rank
14 replies
330 views
April 22, 2026 at 4:02 pmDari Hulu: Masalah Klasik yang Akhirnya Disentuh
Pembentukan Satgas PKH pada dasarnya menjawab persoalan lama di sektor sawit:Perizinan tumpang tindih
Penguasaan lahan yang tidak jelas
Kebun sawit di dalam kawasan hutan
-
-
Surplus BI kena PPh, katanya buat transparansi fiskal. Lah, kalau gitu saya juga mau transparan: tiap gajian saya pajakin diri sendiri, terus setor ke celengan ayam di rumah
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
PMK 115/2025: Fleksibilitas Fiskal atau Sinyal Tekanan Penerimaan Negara?Terbitnya PMK 115/2025 yang merevisi PMK 179/2022 menarik untuk dicermati lebih dalam, khususnya dalam konteks penerimaan negara yang sedang mengalami tekanan. Regulasi…14 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:all surplus bank indonesia surplus bank bank indonesia penerimaan pajak perpajakan
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Dalam kerangka akuntansi akrual dan perspektif perpajakan, Accounts Payable (AP) dan Accounts Receivable (AR) tidak hanya berdampak pada laporan posisi keuangan, tetapi…9 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:all accounting akuntansi pembukuan tax perpajakan
-
PMK 51/2025 Simak Lagi! Pihak-Pihak yang Ditunjuk Jadi Pemungut PPh Pasal 22PMK Nomor 51 Tahun 2025 kembali menegaskan posisi strategis PPh Pasal 22 sebagai instrumen pengamanan penerimaan negara, khususnya pada transaksi-transaksi bernilai besar…14 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:all terhadap penerimaan pajak terhadap penerimaan penerimaan pajak pembayaran community
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Minggu ini, dunia perpajakan Indonesia dipenuhi oleh dua topik yang menjadi perbincangan hangat di kalangan wajib pajak, konsultan, dan praktisi pajak: pemulihan…9 Dec 2025 • Finance & TaxAllTerkait:all pembukuan tax perpajakan pembayaran indonesia
-
Kasus Faktur Pajak Fiktif Rp 10,6 Miliar, Tiga Tersangka Diserahkan Ke KejaksaanKasus penyerahan tiga tersangka pemalsuan faktur pajak fiktif oleh Kanwil DJP Jakarta Barat kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat kembali menjadi pengingat bahwa…24 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:all terhadap penerimaan perpajakan community penerimaan indonesia
-
Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun per 16 Juni 2026, Tumbuh 23,4%Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak neto telah mencapai Rp 940,31 triliun hingga 16 Juni 2026. Angka tersebut…18 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:penerimaan pajak perpajakan penerimaan pajak negara triliun
-
Penerimaan Pajak Capai Rp1.409 Triliun per Agustus 2026, Naik 24,1%!Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan penerimaan pajak mencapai Rp1.409 triliun per Agustus 2026. Angka tersebut naik 24,1% (year on year/YoY) atau dibandingkan…23 Sep 2026 • Finance & TaxTerkait:penerimaan pajak penerimaan pajak negara triliun atas
-
PMK 81/2024 dan Perubahan Pemindahbukuan PajakHalo teman-teman Fintax Community! 👋 Mau share update penting nih soal perubahan aturan pemindahbukuan (Pbk) pajak yang sekarang diatur ulang lewat Coretax…12 Aug 2025 • Finance & TaxAllTerkait:all tax pembayaran bayar community pajak
-
Pertumbuhan PPh Pasal 21 Sembilan Belas PersenHalo rekan-rekan FinTax Community, Capaian pertumbuhan penerimaan Pajak Penghasilan Pasal dua puluh satu sebesar sembilan belas persen secara tahunan hingga akhir September…14 Oct 2026 • Finance & Taxpph21Terkait:penerimaan pajak accounting akuntansi tax perpajakan community
-
Penerimaan Pajak Januari-Agustus 2026 Naik 24,1%, Estimasi Capai Rp 1.409 TriliunPenerimaan pajak terus menunjukkan kinerja positif hingga Agustus 2026. Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan, penerimaan pajak secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026…5 Oct 2026 • Finance & TaxTerkait:penerimaan pajak penerimaan terhadap pajak triliun
-
Bea Keluar Batu Bara 5%–11%: Tantangan Implementasi dan DampaknyaRencana pemerintah mengenakan bea keluar atas ekspor batu bara dengan tarif progresif 5%–11% sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menurut saya…9 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:all community komunitas penerimaan terhadap pajak
-
Perpanjangan NPPN Hingga 31 Desember 2025 – Pengajuan Sukses via Coretax DJPHalo teman-teman di Mekari Community! Berikut informasi krusial dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang perlu segera diketahui: Nomor Pokok Pelaporan Pajak (NPPN)…3 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:all akuntansi pembayaran bayar community penerimaan
