Home / Topics / Finance & Tax / Marketplace Akan Jadi Pemungut PPh 22? Yuk, Kupas Bareng Rencana DJP!
- This topic has 3 replies, 2 voices, and was last updated 1 year ago by
Lia.
Marketplace Akan Jadi Pemungut PPh 22? Yuk, Kupas Bareng Rencana DJP!
June 30, 2025 at 7:05 pm-
-
Up::0
Sobat Fintax, ada kabar terbaru dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang mungkin bakal berdampak langsung pada ekosistem e-commerce di Indonesia.
Lewat Keterangan Tertulis Nomor KT-14/2025, DJP mengumumkan rencana penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22. Artinya, bukan lagi si merchant (penjual) yang menyetorkan PPh secara mandiri, melainkan platform tempat mereka berjualanlah yang akan memungut langsung pajaknya. Ini berlaku untuk transaksi penjualan barang dalam skema Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
Tapi tenang dulu—this is not a new tax. DJP menegaskan bahwa ini hanyalah pergeseran mekanisme pemungutan. PPh-nya sama, hanya saja yang memungut sekarang bukan si pedagang, tapi marketplace sebagai pihak yang ditunjuk pemerintah.
Kenapa Harus Marketplace yang Ditunjuk?
Ada dua alasan utama:
1. Efisiensi dan kemudahan administrasi bagi pedagang.
Banyak pelaku usaha kecil hingga menengah kadang kesulitan dalam administrasi perpajakan. Dengan sistem ini, pajak langsung dipotong oleh marketplace saat transaksi, mirip seperti sistem pajak pada gaji karyawan (withholding system).
2. Pengawasan dan penertiban ekonomi digital.
Ini bagian dari upaya menutup celah shadow economy. Marketplace punya data transaksi yang lengkap dan real-time. Jadi, lebih transparan dan bisa membantu meningkatkan kepatuhan pajak yang lebih adil dan proporsional.Gimana dengan UMKM?
Nah, ini penting banget. UMKM orang pribadi dengan omzet di bawah Rp500 juta per tahun tetap aman, alias tidak dikenakan pungutan pajak ini. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam PP Nomor 55 Tahun 2022 yang membebaskan omzet sampai batas tersebut dari pengenaan PPh Final 0,5%. Jadi, jangan panik kalau kamu pelaku usaha kecil.Landasan Hukumnya Apa?
Rencana ini berpegangan pada Pasal 32A UU KUP yang memberikan wewenang kepada Menteri Keuangan untuk menunjuk pihak lain dalam pemotongan atau pemungutan pajak. Pihak yang dimaksud termasuk yang memfasilitasi transaksi seperti halnya marketplace.Namun, saat ini, regulasi teknisnya masih difinalisasi. Perlu ada revisi atau perluasan cakupan dari PMK 34/PMK.010/2017 yang selama ini belum memasukkan transaksi marketplace sebagai objek PPh 22.
🔎 Pertanyaan Diskusi:
1. Menurut kamu, apakah penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh 22 ini bisa efektif menekan praktik penghindaran pajak di dunia digital?
2. Apakah skema ini bakal menambah beban operasional bagi platform marketplace itu sendiri, atau justru bisa meningkatkan trust pengguna karena semua serba transparan?
3. Buat kamu para pelaku UMKM, apakah kamu merasa skema ini akan memudahkan atau malah membingungkan?Yuk, share insight kamu di kolom komentar. Pajak bukan cuma urusan negara, tapi juga bagian dari strategi bisnis jangka panjang!
-
Topik yang sangat relevan!
Penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh 22 memang jadi langkah strategis dalam merapikan arus transaksi digital. Menurut saya, pendekatan ini bisa mengurangi beban administrasi pedagang dan sekaligus menekan potensi penghindaran pajak.
Yang penting, pelaksanaannya harus jelas dan tidak menambah kebingungan baru, terutama bagi pelaku UMKM. Sosialisasi dan edukasi wajib diperkuat, biar pelaku usaha tetap tenang dan paham posisi mereka.
Kita tunggu regulasi teknisnya—semoga bisa adil, transparan, dan aplikatif di lapangan.
Kamu di tim “ini solusi” atau “perlu dievaluasi”? Share ya di komentar!
-
Saya setuju bahwa penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh 22 bisa membawa dampak positif dalam hal efisiensi administrasi dan pengawasan pajak. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan lebih lanjut terkait implementasi teknisnya. Berikut beberapa pertanyaan tambahan untuk diskusi:
🔸 Apakah sistem pemungutan pajak ini akan menambah beban operasional bagi marketplace, terutama platform kecil atau baru?
Menurut kamu, apakah mereka siap dengan perubahan ini? Adakah kemungkinan mereka akan mengalami kesulitan dalam integrasi sistem perpajakan yang baru?🔸 Bagaimana menurutmu potensi pengawasan data transaksi?
Marketplace kini akan memiliki akses lebih luas terhadap data transaksi para penjual. Menurut kamu, apakah ini akan berdampak pada privasi penjual, atau justru meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap platform tersebut?🔸 Bagi kamu yang terlibat langsung dalam dunia e-commerce, apakah ada tantangan lain yang perlu diantisipasi terkait kebijakan ini?
Mungkin ada pertimbangan dari sisi operasional atau dampak pada pengalaman pelanggan yang perlu diperhatikan.Mari kita gali lebih dalam! 👇
-
Terima kasih, Albert, atas tanggapan dan pertanyaan tambahannya yang sangat tajam! 🙌
Menurut saya pribadi, marketplace besar seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak mungkin sudah siap dari sisi infrastruktur dan tim pajak mereka. Tapi untuk platform yang lebih kecil atau yang masih berkembang, bisa jadi ini akan jadi beban baru—terutama dalam hal integrasi sistem pemungutan otomatis dan pelaporan pajak yang akurat ke DJP.
🔎 Soal privasi, ini menarik. Di satu sisi, transparansi memang meningkat—semua lebih tertata, lebih mudah diaudit, dan hopefully bisa meningkatkan kepercayaan pembeli dan pemerintah. Tapi di sisi lain, penjual bisa jadi khawatir:
• Apakah data mereka akan dibagikan ke pihak lain?
• Apakah akan ada “overlap” kewajiban pajak karena kurang pemahaman?
Maka dari itu, transparansi kebijakan + edukasi bertahap sangat krusial.
💬 Saya jadi ingin tanya ke teman-teman yang aktif jualan online:
Kalau nanti marketplace resmi jadi pemungut PPh 22, kamu lebih merasa terbantu karena urusan pajak jadi otomatis, atau justru makin khawatir karena kontrolnya ada di pihak lain?
Dan untuk rekan yang bergerak di bidang IT/platform:
Apa tantangan terbesar untuk mengimplementasikan skema ini secara teknis?
Yuk terusin diskusinya—biar kita bisa sama-sama siap hadapi perubahan ini 💡
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Antisipasi Pembaruan SAK 2026–2027: Implikasi Transisi PSAK 118, Akuntansi Instrumen Berbasis ESG, dan Sensitivitas FiskHalo rekan-rekan FinTax Community, Pembaruan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dirilis oleh IAI untuk periode 2026 dan 2027 membawa perubahan arsitektur pelaporan…6 Aug 2026 • Finance & TaxsakTerkait:akan pph yuk
-
Ditjen Pajak Hadapi Puluhan Ribu Sengketa Pajak, Nilainya Tembus Rp 176 TriliunDirektorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih menangani puluhan ribu perkara sengketa pajak hingga akhir tahun 2025. Berdasarkan Laporan Keuangan Ditjen…4 Aug 2026 • Finance & TaxTerkait:akan djp
-
Tak Semua Penjual Shopee, Tokopedia, Blibli, dan Lazada Kena Pajak Mulai 1 Agustus, Ini KriterianyaKementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi memberlakukan pemungutan pajak penghasilan (PPh) atas transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) atau e-commerce pada 1 Agustus 2026.…2 Aug 2026 • Finance & TaxTerkait:marketplace akan pemungut pph
-
Tokopedia Buka Menu Tax Exemption Per 13 JuliHalo rekan-rekan FinTax Community, Hari ini, 13 Juli 2026, Tokopedia resmi membuka keran pengajuan pembebasan pemotongan PPh melalui menu baru di Seller…13 Jul 2026 • Finance & Taxtax-exemptionTerkait:marketplace akan pemungut pph yuk djp
-
📢 Kelanjutan PMK 37/2025: Membedah Sisi Administrasi & Validasi Dokumen “Prepaid Tax” Merchant per 1 Agustus 2026 (BagiRekan-rekan Fintax Community, Melanjutkan diskusi hangat kita kemarin mengenai penunjukan 4 raksasa marketplace (Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli) sebagai pemungut PPh Pasal 22…6 Aug 2026 • Finance & Taxpmk37Terkait:marketplace akan pemungut pph djp
-
📢 Hot Issue: PMK 37/2025 & Babak Baru PPh 22 Marketplace Per 1 Agustus 2026. Siapkah Infrastruktur FAT Kita?Rekan-rekan Fintax Community, Pagi ini kita disuguhkan rilis berita resmi mengenai penunjukan Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli sebagai pemungut PPh Pasal 22…2 Jul 2026 • Finance & Taxpph-22Terkait:marketplace akan pemungut pph yuk djp
-
Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun per 16 Juni 2026, Tumbuh 23,4%Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak neto telah mencapai Rp 940,31 triliun hingga 16 Juni 2026. Angka tersebut…18 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:akan djp
-
Permendag 19/2026: NIB untuk Pedagang e-CommercePermendag 19/2026: NIB sebagai Langkah Penguatan Ekosistem Bisnis Digital Menurut saya, kewajiban Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pedagang e-commerce melalui Permendag 19/2026…18 Jun 2026 • Finance & TaxpermendagTerkait:marketplace akan
-
Permendag 19/2026: NIB untuk Pedagang e-Commerce, Langkah Menuju Ekosistem Digital yang Lebih TertataMenurut saya, penerapan kewajiban Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pedagang di e-commerce melalui Permendag 19/2026 menjadi salah satu langkah penting dalam perkembangan…18 Jun 2026 • Finance & TaxpermendagTerkait:marketplace akan
-
Ditjen Pajak Kejar Pajak Sektor Sawit, Potensi Penerimaan Rp 1,1 TriliunDirektorat Jenderal (Direktorat) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperketat pengawasan dan penegakan hukum di sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Langkah ini mulai…15 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:akan djp
-
Shopee Cs Pungut Pajak PPN PMSE Rp10,32 Triliun pada 2025, Total Setoran Ekonomi Digital Rp47,18 TriliunDirektorat Jenderal Pajak Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan melaporkan total penerimaan pajak dari sektor ekonomi digital mencapai Rp47,18 triliun per akhir 31…4 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:akan pemungut pph
-
Pemerintah Perketat Restitusi Pajak Bermasalah, Penerimaan Negara Melonjak 16,1%Pemerintah akan menahan sementara pencairan restitusi pajak yang dinilai bermasalah atau belum terverifikasi guna mencegah potensi kebocoran penerimaan negara. Meski demikian, pemerintah…8 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:akan djp
