Home / Topics / Finance & Tax / Ekonom Ingatkan Risiko Pusat Finansial Internasional Bali Jadi Sarang Tax Avoidance
- This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 4 months, 1 week ago by
AKHMAD.
Ekonom Ingatkan Risiko Pusat Finansial Internasional Bali Jadi Sarang Tax Avoidance
June 25, 2026 at 3:59 pm-
-
Up::0
Rencana pemerintah membentuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di Bali mulai menarik perhatian. Di balik ambisi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat jasa keuangan global, kebijakan ini dinilai menyimpan peluang sekaligus tantangan yang tidak kecil bagi stabilitas fiskal dan tata kelola ekonomi nasional.
Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai inisiatif tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pengembangan sektor jasa keuangan. Namun, ia mengingatkan bahwa langkah besar ini tidak datang tanpa risiko. Salah satu sorotan utamanya adalah kecepatan pemerintah dalam menyiapkan kerangka hukum yang menjadi fondasi kawasan tersebut.
Apalagi Yusuf menyebut, pemerintah bergerak cukup cepat dalam menyiapkan landasan hukum kawasan tersebut. Ia menyoroti ketentuan yang mewajibkan seluruh aturan turunan rampung dalam waktu tiga bulan setelah regulasi utama disahkan.
Selain itu, rancangan undang-undang terkait juga telah disetujui masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR melalui mekanisme keadaan tertentu.
Ia menjelaskan kawasan ekonomi khusus yang dirancang itu akan mengadopsi model Dubai International Financial Centre (DIFC), yang memungkinkan adanya rezim hukum, perpajakan, dan tata kelola tersendiri di dalam kawasan.
Dalam skema tersebut, investor tertentu bahkan berpeluang memperoleh fasilitas tarif pajak hingga nol persen.
Meski menawarkan daya tarik investasi yang besar, Yusuf mengingatkan adanya potensi moral hazard yang cukup serius.
Dari sisi fiskal, pemberian insentif pajak hingga nol persen dinilai berpotensi bertentangan dengan komitmen Indonesia dalam penerapan pajak minimum global atau global minimum tax sebesar 15%.
Selain itu, ia menilai kawasan tersebut dapat membuka peluang terjadinya praktik round tripping, yakni ketika modal domestik terlebih dahulu ditempatkan di luar negeri lalu masuk kembali ke Indonesia sebagai investasi asing untuk memperoleh berbagai fasilitas perpajakan.
“Tanpa aturan main yang ketat, kawasan khusus ini rawan memicu praktik round tripping, yaitu kondisi ketika modal domestik sengaja dilarikan ke luar negeri terlebih dahulu, lalu dimasukkan kembali sebagai investasi asing hanya demi memburu fasilitas bebas pajak,” ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (23/6/2026).
Yusuf juga menyoroti dampak sosial yang berpotensi muncul akibat pemberian insentif fiskal yang terlalu besar kepada kelompok investor.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperkuat persepsi ketidakadilan di tengah masyarakat karena penerimaan negara saat ini masih banyak ditopang oleh pajak konsumsi seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Jika kelompok pemodal memperoleh fasilitas yang sangat besar, sementara masyarakat umum tetap menanggung beban pajak konsumsi, maka kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan berisiko menurun dan berdampak pada kepatuhan pajak sukarela.
Meski demikian, Yusuf menegaskan bahwa gagasan pembentukan pusat finansial internasional tidak seharusnya ditolak begitu saja.
Ia menilai sejumlah negara dan kawasan seperti Singapura, Dubai International Financial Centre, dan Astana International Financial Centre telah menunjukkan keberhasilan dalam memperdalam pasar keuangan dan menciptakan industri jasa bernilai tambah tinggi.
Oleh karena itu, menurutnya, perhatian pemerintah saat ini seharusnya difokuskan pada penyusunan desain regulasi yang kuat agar kawasan tersebut tidak berubah menjadi tempat berlindung pajak (tax haven) atau lokasi parkir dana semata.
Untuk mencegah kebocoran penerimaan negara, Yusuf menyarankan agar regulasi mengatur secara ketat syarat substansi ekonomi bagi penerima insentif. Dengan demikian, fasilitas pajak hanya diberikan kepada aktivitas ekonomi riil yang menciptakan lapangan kerja dan investasi produktif, bukan sekadar perpindahan keuntungan secara administratif.
Ia juga mendorong pemerintah menerapkan mekanisme ring-fencing guna melindungi basis pajak nasional serta memperketat transparansi kepemilikan manfaat (beneficial ownership).
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan skema pengelolaan dana, termasuk family office, tetap berada dalam pengawasan yang memadai.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Minggu ini, dunia perpajakan Indonesia dipenuhi oleh dua topik yang menjadi perbincangan hangat di kalangan wajib pajak, konsultan, dan praktisi pajak: pemulihan…9 Dec 2025 • Finance & TaxAllTerkait:perpajakan internasional tax pajak tersebut kawasan
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Dalam kerangka akuntansi akrual dan perspektif perpajakan, Accounts Payable (AP) dan Accounts Receivable (AR) tidak hanya berdampak pada laporan posisi keuangan, tetapi…9 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:perpajakan risiko tax pajak berpotensi keuangan
-
Optimalisasi Pajak Perusahaan dengan Fasilitas Pasal 31E UU PPhTidak semua penghasilan yang diperoleh perusahaan secara otomatis dikenakan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan secara penuh. Dalam sistem perpajakan di Indonesia, pemerintah…7 May 2026 • Finance & Taxpajak-perusahaan pasal-31e pkp pph-badanTerkait:perpajakan pajak tersebut pemerintah indonesia fasilitas
-
PMK 71/2026 dan Reformasi Prosedur Keberatan PajakHalo rekan-rekan FinTax Community, Penerbitan Peraturan Menteri Keuangan Nomor tujuh puluh satu tahun dua ribu dua puluh enam sebagai revisi atas PMK…8 Oct 2026 • Finance & Taxpmk-71Terkait:perpajakan internasional tax pajak fasilitas ekonomi
-
Transisi PSAK 118 dan Kepatuhan Coretax: Strategi Remapping Chart of Accounts (CoA) untuk Mencegah Indikator Risiko FiskHalo rekan-rekan FinTax Community, Peringatan dari praktisi akuntansi Aldion Soeprijono mengenai risiko red flag pada sistem Coretax akibat perubahan format laporan keuangan…13 Aug 2026 • Finance & Taxcoretax psakTerkait:perpajakan risiko tax pajak besar investasi
-
Kawasan Berikat Serap 1,83 Juta Tenaga Kerja Dan Sumbang 30 % Ekspor Nasional(Cirebon) Kementerian Keuangan melalui Bea Cukai menegaskan peran kawasan berikat (KB) sebagai instrumen strategis untuk mendorong industri berorientasi ekspor. Fasilitas ini dinilai…6 Oct 2025 • Finance & TaxAllTerkait:internasional pusat pajak tersebut kawasan pemerintah
-
Guys, Target Tax Ratio 2026 Mau Tembus 10,47%! Gimmick Atau Realita?Oke, jadi pemerintah udah ngumumin target tax ratio buat 2026 bakal naik ke 10,47%. Naik dikit sih dari tahun ini yang ditargetin…21 Aug 2025 • Finance & TaxAllTerkait:perpajakan tax pajak pemerintah besar ekonomi
-
Revolusi Pelaporan Keuangan Melalui PSAK 118Halo rekan-rekan FinTax Community, Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan nomor seratus delapan belas menandai tonggak sejarah baru dalam evolusi penyajian laporan keuangan…2 Nov 2026 • Finance & Taxpsak-118Terkait:perpajakan internasional tax pajak indonesia besar
-
Risiko Keterlambatan TP Doc Menurut PMK 172/2023Halo rekan-rekan FinTax Community, Sorotan tajam dari Senior Manager RSM Indonesia, Ibu Rindhaswari, mengenai implikasi keterlambatan penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc)…27 Oct 2026 • Finance & Taxtp-docTerkait:internasional risiko tax pajak indonesia besar
-
Tokopedia Buka Menu Tax Exemption Per 13 JuliHalo rekan-rekan FinTax Community, Hari ini, 13 Juli 2026, Tokopedia resmi membuka keran pengajuan pembebasan pemotongan PPh melalui menu baru di Seller…13 Jul 2026 • Finance & Taxtax-exemptionTerkait:perpajakan risiko tax pajak fasilitas berpotensi
-
📢 Kelanjutan PMK 37/2025: Membedah Sisi Administrasi & Validasi Dokumen “Prepaid Tax” Merchant per 1 Agustus 2026 (BagiRekan-rekan Fintax Community, Melanjutkan diskusi hangat kita kemarin mengenai penunjukan 4 raksasa marketplace (Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli) sebagai pemungut PPh Pasal 22…6 Aug 2026 • Finance & Taxpmk37Terkait:perpajakan tax pajak tersebut keuangan regulasi
-
Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun per 16 Juni 2026, Tumbuh 23,4%Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak neto telah mencapai Rp 940,31 triliun hingga 16 Juni 2026. Angka tersebut…18 Jun 2026 • Finance & TaxTerkait:perpajakan pajak tersebut pemerintah besar ekonomi