Home / Topics / Finance & Tax / Wamenkeu Pastikan Siklus Penurunan Penerimaan Di Mei Masih Wajar
- This topic has 3 replies, 2 voices, and was last updated 8 months, 1 week ago by
Lia.
Wamenkeu Pastikan Siklus Penurunan Penerimaan Di Mei Masih Wajar
June 24, 2025 at 11:25 am-
-
Up::0
(Jakarta) Realisasi penerimaan pajak bruto hingga akhir Mei 2025 mencapai Rp 895,77 triliun, melanjutkan tren positif sejak Maret. Sementara itu, penerimaan pajak neto tercatat sebesar Rp 683,26 triliun atau 31,2 % dari target tahun ini. Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu menjelaskan bahwa penerimaan bruto menggambarkan kondisi ekonomi secara umum, sementara penerimaan neto mencerminkan bruto yang telah dikurangi restitusi yang menjadi kewajiban negara.
Meski mengalami sedikit perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, penerimaan pajak bruto pada Mei 2025 tetap tumbuh dibandingkan tahun lalu. Realisasi pajak bruto bulan Mei 2025 sebesar Rp 162,5 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2024 yang sebesar Rp 162,2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja penerimaan pajak masih tumbuh secara tahunan meski dalam tren musiman yang menurun.
Wamenkeu Anggito mengungkapkan bahwa pola penerimaan pajak sejak 2022 memang menunjukkan tren serupa, dimana puncak penerimaan terjadi pada Maret dan April, lalu sedikit menurun pada Mei. “Kalau kita lihat penerimaan pajak itu siklusnya mirip. Maret dan April itu mengalami puncak, kemudian Mei sedikit menurun. Jadi secara siklus mirip dan secara kecenderungan bruto itu tumbuh lebih 5,2%,” ungkap Wamenkeu Anggito Abimanyu yang dikutip ada Minggu (22/06).
Pertumbuhan penerimaan Mei 2025 ditopang oleh peningkatan angsuran PPh Badan serta lonjakan PPh Pasal 26 yang berasal dari pembayaran dividen luar negeri. Kenaikan PPh Pasal 26 disebabkan pergeseran waktu pembayaran dividen yang biasanya dilakukan pada April, namun pada tahun ini terjadi di akhir Mei.
Sejumlah sektor menjadi kontributor utama pertumbuhan penerimaan pajak bruto, antara lain sektor perbankan, ketenagalistrikan, pertambangan bijih logam, industri minyak kelapa sawit, serta industri pengolahan tembakau. Di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, pemerintah berharap kinerja pajak yang positif ini mampu menjaga kekuatan APBN dalam mendukung program-program prioritas nasional.
-
Stabil tapi tetap waspada. Meski ada penurunan musiman di bulan Mei, tren penerimaan pajak secara keseluruhan masih positif. Artinya, ekonomi kita masih cukup tahan banting di tengah gejolak global dan fluktuasi harga komoditas.
Yang menarik, lonjakan PPh Pasal 26 karena pembayaran dividen luar negeri yang geser waktunya ke Mei, nunjukin pentingnya kita memahami pola waktu pembayaran dalam membaca data pajak—jangan cuma lihat angka mentah, tapi juga konteksnya.
Sektor-sektor seperti perbankan, listrik, dan kelapa sawit masih jadi penyumbang utama. Ini bisa jadi sinyal bagus buat arah kebijakan fiskal dan sektor yang perlu terus didorong. Tapi di sisi lain, kita juga harus hati-hati karena banyak faktor eksternal yang masih rawan berubah.
Yang jelas, kinerja pajak yang terus tumbuh ini penting banget buat jaga daya tahan APBN. Karena dari situlah negara bisa terus biayai program-program prioritas, mulai dari infrastruktur sampai bantuan sosial.
-
Setuju banget sama poin-poin dari Mbak Lia! Keren sih lihat Bea Cukai nggak cuma hadir, tapi benar-benar take part dan punya suara strategis dalam arah kebijakan kepabeanan ASEAN. Peran sebagai Chair of CCBWG juga nunjukin kalau Indonesia dipercaya buat jadi motor perubahan.
Saya pribadi tertarik sama agenda modernisasi dan integrasi sistem kayak ASEAN Single Window dan ACTS Dashboard. Kalau sistem ini makin kuat, dampaknya bisa langsung terasa buat dunia usaha juga—dari sisi efisiensi waktu, biaya, dan transparansi. Belum lagi dukungan ke negara anggota baru kayak Timor Leste, itu langkah bagus buat ngebangun solidaritas dan pemerataan kapasitas di ASEAN.
Pertanyaan untuk diskusi:
Kira-kira, tantangan paling besar apa sih yang dihadapi Indonesia dalam upaya harmonisasi kebijakan kepabeanan ASEAN ini? Apakah lebih ke sisi teknologi, regulasi nasional, atau koordinasi antarinstansi?
-
-
Terima kasih, Mas Albert, sudah mengangkat poin penting soal modernisasi sistem kepabeanan ASEAN. Saya sepakat, kalau ASEAN Single Window dan ACTS Dashboard ini berhasil diimplementasikan dengan baik, bakal banyak manfaat langsung dirasakan pelaku usaha dan pemerintah.
Untuk tantangan harmonisasi kebijakan kepabeanan, saya melihat ada beberapa sisi yang harus diperhatikan secara simultan:
1. Teknologi
Integrasi sistem IT antarnegara memang kompleks, terutama soal standar data, keamanan, dan infrastruktur yang masih berbeda-beda di tiap anggota ASEAN. Ini butuh investasi besar dan komitmen jangka panjang.
2. Regulasi Nasional
Masing-masing negara punya kebijakan dan peraturan kepabeanan yang berbeda, kadang sulit diselaraskan karena ada perbedaan kepentingan dan prioritas domestik. Proses harmonisasi ini butuh negosiasi dan penyesuaian yang cermat.
3. Koordinasi Antarinstansi
Di dalam negeri, koordinasi antar lembaga seperti Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, dan instansi terkait lain juga krusial agar kebijakan yang sudah disepakati di ASEAN bisa diterapkan secara konsisten.
Menurut saya, kunci keberhasilan ada di kolaborasi yang kuat dan komunikasi terbuka—baik antarnegara maupun antarinstansi di dalam negeri.
Bagaimana menurut Mas Albert dan teman-teman lain? Apakah ada pengalaman atau insight lain terkait tantangan ini, terutama di lapangan?
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Penggantian Jabatan NPWP Sementara (999) Menjadi NIK Valid pada Bukti Potong PPh Pasal 21 Bulanan (BPMP)Dalam rangka mendukung kelancaran pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi Tahun Pajak 2025, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah melakukan proses penggantian identitas secara…9 Apr 2026 • Finance & Taxpajak-djp-coretax-pph21-spttahunan-spt2025Terkait:masih
-
Optimalisasi Pajak Perusahaan dengan Fasilitas Pasal 31E UU PPhTidak semua penghasilan yang diperoleh perusahaan secara otomatis dikenakan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan secara penuh. Dalam sistem perpajakan di Indonesia, pemerintah…10 Mar 2026 • Finance & Taxpajak-perusahaan pasal-31e pkp pph-badanTerkait:masih
-
PMK 100/2025 dan Tantangan Implementasi Akuntansi Berbasis AkrualPMK 100/2025 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat menurut saya merupakan langkah penting dalam memperkuat fondasi tata kelola keuangan negara, khususnya di era…16 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:masih
-
Bea Keluar Batu Bara 5%–11%: Tantangan Implementasi dan DampaknyaRencana pemerintah mengenakan bea keluar atas ekspor batu bara dengan tarif progresif 5%–11% sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menurut saya…9 Apr 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penurunan penerimaan
-
PMK 115/2025: Fleksibilitas Fiskal atau Sinyal Tekanan Penerimaan Negara?Terbitnya PMK 115/2025 yang merevisi PMK 179/2022 menarik untuk dicermati lebih dalam, khususnya dalam konteks penerimaan negara yang sedang mengalami tekanan. Regulasi…6 Jan 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan masih
-
PMK 51/2025 Simak Lagi! Pihak-Pihak yang Ditunjuk Jadi Pemungut PPh Pasal 22PMK Nomor 51 Tahun 2025 kembali menegaskan posisi strategis PPh Pasal 22 sebagai instrumen pengamanan penerimaan negara, khususnya pada transaksi-transaksi bernilai besar…16 Feb 2026 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan
-
Trending Perpajakan Minggu Ini: Core Tax Normal & 13 Layanan Pajak Baru”Minggu ini, dunia perpajakan Indonesia dipenuhi oleh dua topik yang menjadi perbincangan hangat di kalangan wajib pajak, konsultan, dan praktisi pajak: pemulihan…9 Dec 2025 • Finance & TaxAllTerkait:mei masih
-
Kasus Faktur Pajak Fiktif Rp 10,6 Miliar, Tiga Tersangka Diserahkan Ke KejaksaanKasus penyerahan tiga tersangka pemalsuan faktur pajak fiktif oleh Kanwil DJP Jakarta Barat kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat kembali menjadi pengingat bahwa…24 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan masih
-
PPh 21 DTP = Tambahan Gaji Bersih, Bukan Potongan Pajak!💬 Masih Banyak yang Salah Paham soal PPh 21 DTP! Banyak perusahaan masih mengira bahwa jika sudah memakai sistem Net (pajak ditanggung…7 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:masih
-
Perpanjangan NPPN Hingga 31 Desember 2025 – Pengajuan Sukses via Coretax DJPHalo teman-teman di Mekari Community! Berikut informasi krusial dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang perlu segera diketahui: Nomor Pokok Pelaporan Pajak (NPPN)…3 Nov 2025 • Finance & TaxAllTerkait:pastikan penerimaan
-
Guys, Target Tax Ratio 2026 Mau Tembus 10,47%! Gimmick Atau Realita?Oke, jadi pemerintah udah ngumumin target tax ratio buat 2026 bakal naik ke 10,47%. Naik dikit sih dari tahun ini yang ditargetin…21 Aug 2025 • Finance & TaxAllTerkait:penerimaan masih
-
Wajib Tahu! Surat Keterangan Fiskal (SKF) Cuma Berlaku 1 Bulan, Jangan Sampai KeGuys, mau sharing info penting nih soal Surat Keterangan Fiskal (SKF) biar nggak sampai ada yang kelabakan di last minute 😅. Jadi,…14 Aug 2025 • Finance & TaxAllTerkait:pastikan
